BANDA ACEH — Seragam cokelat yang dikenakan Aipda Jonni Rahmad mungkin terlihat sama seperti seragam polisi pada umumnya. Namun, di balik seragam itu tersimpan kisah pengabdian yang tidak hanya berbicara tentang tugas menjaga keamanan, tetapi juga tentang kepedulian, ketulusan dan keberanian untuk berbagi.
Bagi Jonni, menjadi polisi bukan sekadar menjalankan kewajiban kedinasan. Ada tanggung jawab moral untuk hadir di tengah masyarakat, terutama ketika ada warga yang sedang menghadapi kesulitan.
Prinsip itu ia jalani dalam kehidupan sehari-hari.
Polisi kelahiran 15 Maret 1986 tersebut kini bertugas sebagai Ps. Kasium Polsek Panteraja, Polres Pidie Jaya, Polda Aceh. Sejak menyelesaikan pendidikan Diktukba Polri pada 2005, Jonni memilih mengabdikan dirinya kepada masyarakat dan institusi yang telah membesarkan namanya.
Namun, perjalanan pengabdiannya tidak berhenti di balik meja kantor atau ketika jam dinas berakhir.
Di luar tugas kedinasan, Jonni justru menemukan ruang pengabdian lain: membantu mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Dari Gaji yang Disisihkan, Menjadi Rumah bagi Keluarga Tak Mampu
Salah satu kisah paling menyentuh dari perjalanan sosial Jonni adalah kebiasaannya menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu membangun dan merehabilitasi rumah warga kurang mampu.
Bukan satu atau dua rumah.
Hingga kini, Jonni telah membangun empat rumah untuk keluarga fakir miskin dan membantu merehabilitasi tiga rumah lainnya.
Rumah-rumah tersebut mungkin tidak berdiri megah. Namun, bagi keluarga yang sebelumnya hidup dalam kondisi serba terbatas, bangunan itu memiliki arti yang jauh lebih besar.
Di sana ada tempat berteduh. Ada rasa aman. Ada ruang bagi anak-anak untuk tumbuh. Dan yang paling penting, ada harapan bahwa kehidupan mereka masih diperhatikan.
Jonni memilih menggunakan sebagian rezekinya untuk menghadirkan semua itu.
Ia tidak menunggu memiliki harta berlimpah. Tidak pula menunggu datangnya program bantuan.
Apa yang ada, ia sisihkan.
Apa yang mampu ia lakukan, ia kerjakan.
Ketika Banjir Datang, Ia Membawa Al-Qur'an dan Harapan
Kepedulian Jonni juga terlihat ketika banjir melanda sejumlah wilayah pada akhir 2025.
Di tengah kondisi masyarakat yang sedang berjuang menghadapi dampak banjir, Jonni memilih mendatangi anak-anak terdampak.
Namun, yang dibawanya bukan sekadar bantuan kebutuhan sehari-hari.
Ia membawa Iqra dan Al-Qur'an.
Ada pesan sederhana di balik langkah tersebut: musibah boleh mengganggu aktivitas, tetapi jangan sampai memutus semangat anak-anak untuk belajar dan mengaji.
Bagi Jonni, membantu masyarakat bukan hanya tentang meringankan beban hari ini. Membantu juga berarti menjaga harapan untuk hari esok.
Lebaran dan Senyum Anak-Anak
Menjelang Idulfitri, kepeduliannya kembali diwujudkan dengan cara sederhana.
Jonni menyisihkan sebagian rezekinya untuk membelikan pakaian Lebaran bagi anak-anak yatim piatu.
Ia juga pernah membantu seorang anak yang menderita kebocoran jantung hingga harus menjalani pengobatan ke Jakarta.
Baginya, kebahagiaan tidak selalu harus datang dalam bentuk besar.
Terkadang, sebuah pakaian baru untuk anak yatim, bantuan biaya pengobatan, atau sebuah rumah sederhana bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang yang menerimanya.
Penghargaan Bukan Tujuan
Pengabdian Jonni sebenarnya bukan tanpa apresiasi.
Selama berkarier di Polri, ia memperoleh berbagai penghargaan, di antaranya Satyalancana Pengabdian 8 Tahun pada 2013 dan Satyalancana Pengabdian 16 Tahun pada 2021.
Ia juga pernah mendapat penghargaan dari Kapolres Pidie pada 2017, Kapolres Pidie Jaya pada 2020, Asisten SDM Polri dan Kapolda Aceh pada 2021, serta Kepala SPN Polda Aceh pada 2022.
Selain itu, ia pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan pengembangan berupa penyegaran bendahara pengeluaran pada 2015.
Tetapi bagi Jonni, semua penghargaan tersebut bukan alasan untuk berhenti berbuat.
Ada penghargaan lain yang menurutnya jauh lebih berharga.
Senyum seorang anak.
Wajah lega keluarga yang mendapat rumah.
Kesembuhan seorang warga.
Atau sekadar ucapan terima kasih dari seseorang yang merasa tidak lagi sendirian menghadapi kesulitan.
“Saya Hanya Ingin Membantu”
Saat ditemui media ini, Selasa, 25 Agustus 2026, alumni SMK Negeri 2 Sigli itu menegaskan bahwa berbagai aksi sosial yang dilakukannya bukan untuk mencari popularitas.
“Semua yang saya lakukan bukan untuk mencari popularitas atau dikenal banyak orang. Ini murni karena keinginan untuk membantu sesama. Sebagai anggota Polri, saya merasa wajib untuk hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama ketika ada saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujar Jonni.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, perjalanan yang telah ia lakukan menunjukkan bahwa kalimat tersebut bukan sekadar ucapan.
Empat rumah telah berdiri.
Tiga rumah telah direhabilitasi.
Anak-anak terdampak banjir telah kembali memegang Iqra dan Al-Qur'an.
Anak yatim mendapatkan pakaian Lebaran.
Seorang anak dengan penyakit jantung mendapat bantuan untuk berobat.
Semua itu menjadi jejak nyata dari pengabdian seorang polisi di luar tugas rutinnya.
Polisi yang Memilih Hadir
Di tengah masyarakat, sosok polisi kerap identik dengan penegakan hukum, keamanan dan ketertiban.
Jonni memperlihatkan sisi lain dari pengabdian tersebut.
Baginya, menjaga masyarakat bukan hanya memastikan lingkungan tetap aman, tetapi juga memastikan warga yang sedang berada dalam kesulitan tidak merasa ditinggalkan.
Seragam tetap dikenakan.
Tugas tetap dijalankan.
Namun ketika menemukan warga yang membutuhkan, Jonni memilih untuk tidak sekadar melihat.
Ia datang.
Ia mendengar.
Ia membantu.
Dan ketika mampu, ia berbagi.
Kisah Aipda Jonni Rahmad pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang polisi yang membangun rumah untuk fakir miskin.
Ini adalah cerita tentang bagaimana pengabdian bisa tumbuh dari hal sederhana: menyisihkan sebagian rezeki, meluangkan waktu dan memilih untuk peduli.
Sebab bagi Jonni, menjadi polisi bukan hanya tentang menjaga masyarakat agar tetap aman.
Menjadi polisi juga berarti memastikan mereka yang sedang kesulitan tahu bahwa masih ada orang yang bersedia berdiri di sisi mereka. []
Editor : Wahyu