Iklan Parlemen

terkini

Teuku Andie, Suara Reggae Aceh yang Pergi: Sebuah Sahabat, Sebuah Kenangan, dan Kata yang Tak Sempat Terucap

Rabu, 26 Agustus 2026, 21.38 WIB Last Updated 2026-08-26T14:38:24Z

BANDA ACEH — Ada kabar duka yang datang bukan melalui telepon, bukan pula dari pesan seorang sahabat. Ia muncul tiba-tiba di layar media sosial, membawa sebuah nama dari masa lalu yang selama hampir satu dekade tak lagi terdengar kabarnya.

Nama itu adalah Teuku Andie, vokalis Seuramoe Reggae, salah satu sosok yang ikut mewarnai perjalanan musik reggae di Aceh.

Andie meninggal dunia di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Syiah Kuala (RSP USK), Banda Aceh, Senin malam, 24 Agustus 2026. Kabar kepergiannya menjadi pukulan tersendiri bagi keluarga, sahabat, rekan sesama musisi, dan orang-orang yang pernah bersinggungan dengan perjalanan hidupnya.

Namun bagi seorang sahabat lama, berita tersebut menghadirkan kesedihan yang terasa berbeda.

Hampir sepuluh tahun mereka tidak berkomunikasi. Tidak ada lagi pesan, tidak ada percakapan panjang, dan tidak ada pertemuan seperti dulu. Hingga pada suatu hari, nama Andie kembali muncul—bukan untuk mengajak bertemu, melainkan dalam sebuah kabar bahwa ia telah pergi untuk selamanya.

Pertemuan yang Berawal pada 2013

Pertengahan 2013 menjadi titik awal persahabatan itu.

Di sebuah provinsi yang hingga kini masih menghadapi persoalan konflik, keduanya berkenalan dan kemudian menjalin pertemanan secara sederhana. Tidak ada sesuatu yang istimewa untuk memulainya.

Mereka hanya sering duduk bersama, nongkrong, berbincang, tertawa, membicarakan kehidupan, musik, perjalanan, dan berbagai hal kecil yang pada saat itu terasa biasa.

Justru hal-hal sederhana itulah yang kemudian menjadi kenangan paling berharga.

Pada 2015, keduanya kembali bertemu di Banda Aceh. Sayangnya, perjumpaan tersebut berlangsung singkat. Kesibukan dan perjalanan membuat waktu bersama tidak lagi sepanjang masa-masa sebelumnya.

Setelah itu, salah satu dari mereka harus melanjutkan perjalanan menuju Tanah Gayo.

Tak ada yang menyadari bahwa pertemuan tersebut perlahan akan menjadi salah satu perjumpaan terakhir.

Hari-hari terus bergulir. Kesibukan, pekerjaan, perjalanan, dan perubahan kehidupan membuat komunikasi semakin jarang hingga akhirnya benar-benar terputus.

Hampir satu dekade berlalu.

Nama yang Tiba-Tiba Kembali Muncul

Kabar tentang Andie akhirnya diketahui melalui media sosial TikTok.

Nama yang selama bertahun-tahun tak terdengar itu tiba-tiba kembali hadir di hadapan sahabat lamanya. Tetapi kali ini bukan dalam sebuah ajakan bertemu, bukan pula dalam sebuah percakapan lama.

Melainkan dalam berita duka.

Ada rasa tidak percaya. Ada kesedihan. Ada nostalgia yang tiba-tiba muncul bersamaan.

Dan ada satu perasaan yang sulit dihindari: penyesalan.

Mengapa dulu tidak mencoba mencari kabarnya?

Mengapa tidak mengirim pesan sekadar bertanya, “Apa kabar?”

Mengapa selalu merasa masih ada waktu untuk bertemu kembali?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering kali baru muncul ketika seseorang sudah tidak mungkin lagi memberikan jawabannya.

Sebab ketika seseorang masih hidup, kehilangan komunikasi terkadang dianggap sebagai hal biasa. Kita selalu merasa masih memiliki hari esok untuk menyambung kembali hubungan yang pernah dekat.

Tetapi kematian tidak pernah menjanjikan kesempatan kedua.

Dua Dekade Bersama Reggae Aceh

Di mata publik, Teuku Andie dikenal sebagai vokalis Seuramoe Reggae.

Selama sekitar dua dekade, kelompok tersebut ikut menjadi bagian dari perjalanan musik reggae di Aceh. Salah satu identitas yang melekat pada karya mereka adalah penggunaan bahasa Aceh.

Pilihan tersebut bukan sekadar persoalan bahasa. Di dalamnya terdapat upaya menghadirkan identitas lokal dalam musik yang memiliki akar budaya berbeda.

Reggae menjadi medium ekspresi. Bahasa Aceh menjadi warna. Panggung menjadi ruang untuk menyampaikan cerita dan perasaan.

Di situlah perjalanan Andie memiliki arti lebih dari sekadar seorang vokalis.

Ia menjadi bagian dari generasi musisi yang ikut menunjukkan bahwa musik modern tetap bisa tumbuh tanpa harus meninggalkan akar budaya sendiri.

Bagi para penggemarnya, mungkin yang akan dikenang adalah suara dan penampilannya di atas panggung.

Namun bagi sahabat-sahabatnya, Andie mungkin akan lebih lama dikenang sebagai seorang teman yang pernah duduk bersama, berbincang, bercanda, dan berbagi cerita dalam perjalanan hidup.

Tidak Semua Pertemuan Punya Kesempatan Kedua

Kematian Andie menyisakan pelajaran sederhana namun dalam.

Dalam hidup, manusia sering menunda banyak hal.

Menunda menghubungi teman.

Menunda bertemu.

Menunda meminta maaf.

Bahkan menunda sekadar mengatakan bahwa seseorang masih berarti.

Kesibukan selalu menjadi alasan yang terasa masuk akal. Jarak dianggap sebagai sesuatu yang sementara. Waktu diyakini masih panjang.

Sampai akhirnya sebuah kabar duka datang dan membuat semua rencana yang pernah dianggap bisa dilakukan nanti menjadi tidak mungkin lagi.

Pertemuan 2013 tidak dapat diulang.

Percakapan 2015 tidak dapat diperpanjang.

Dan setelah hampir satu dekade tanpa kabar, tidak ada lagi kesempatan untuk membuat janji bertemu kembali.

Yang tersisa hanyalah ingatan.

Selamat Jalan, Sahabat

Kenangan seorang sahabat tidak selalu tersimpan dalam foto atau rekaman.

Kadang ia tinggal dalam ingatan tentang tempat pernah duduk bersama, obrolan yang pernah berlangsung, candaan yang pernah membuat tertawa, atau perjalanan yang pernah dilakukan.

Begitulah Andie akan dikenang.

Sebagai musisi, ia meninggalkan jejak melalui musiknya.

Sebagai sahabat, ia meninggalkan cerita di hati orang-orang yang pernah mengenalnya.

Sebagai manusia, ia meninggalkan kenangan yang tidak akan hilang hanya karena waktu dan jarak.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan, sahabat. Semua kebaikanmu akan selalu kami kenang. Terima kasih telah menjadi teman yang baik. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahanmu, menerima seluruh amal baikmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga husnul khatimah. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan.”

Teuku Andie telah pergi.

Suara yang pernah mengisi panggung reggae Aceh itu kini telah berhenti terdengar di dunia.

Namun kenangan tidak ikut pergi.

Sebab bagi mereka yang pernah duduk bersamanya, tertawa bersamanya, dan berbagi cerita dengannya, Andie akan selalu menjadi bagian dari sebuah perjalanan yang pernah nyata.

Dan mungkin, dari kepergiannya kita kembali diingatkan:

Jangan terlalu lama menunda menghubungi orang yang pernah berarti. Sebab kita tidak pernah tahu, apakah “nanti” masih akan datang.

Selamat jalan, Teuku Andie.

Suaramu telah berhenti di panggung dunia, tetapi kenangan tentangmu akan terus bernyanyi dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalmu. []


Editor  :  Redaksi
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Teuku Andie, Suara Reggae Aceh yang Pergi: Sebuah Sahabat, Sebuah Kenangan, dan Kata yang Tak Sempat Terucap

Terkini

Iklan Parlemen