USK sendiri memperoleh kesempatan melaksanakan 21 program pengabdian masyarakat di wilayah terdampak bencana dengan melibatkan sekitar 1.050 mahasiswa. Para mahasiswa hadir, tinggal, dan hidup bersama masyarakat penyintas selama satu bulan penuh di 21 lokus pengabdian yang tersebar di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Bener Meriah, Takengon, hingga Aceh Tamiang.
Dalam kunjungan tersebut, Wamen didampingi langsung oleh Rektor USK, Mirza Tabrani, Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Agussabti, Sekretaris Universitas Dr. Teuku Meldi Kesuma, Ketua LPPM USK Prof. Mudatsir, Wakil Ketua Bidang Pengabdian kepada Masyarakat LPPM USK Dr. Sulastri, Wakil Ketua Bidang Penelitian LPPM USK Prof. Nasrul, serta dosen senior Program Studi Teknik Elektro Prof. Yuwaldi Away. Rombongan mengunjungi dua lokasi kegiatan pengabdian di Kabupaten Pidie Jaya, tepatnya di Gampong Dayah Usen dan kawasan Masjid Tuha. Kehadiran rombongan disambut hangat oleh Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, bersama Sekretaris Daerah, Ketua dan anggota Tim Penggerak PKK, serta masyarakat setempat.
Di lokasi pertama, Wamen menyaksikan langsung keberlanjutan dampak program pendampingan psikososial dan pemulihan ekonomi masyarakat korban banjir bandang. Program tersebut berhasil membangkitkan kembali semangat warga untuk bangkit dari keterpurukan. Warga tidak hanya didampingi secara emosional, tetapi juga dibina membangun usaha kelompok produksi kerupuk tempe di Gampong Dayah Usen dengan merek “Krab Krub”.
Salah seorang tim pengabdi, Dr. Hetty Zuliani dari FKIP USK, menjelaskan bahwa program ini lahir dari keprihatinan terhadap banyaknya persoalan psikologis dan sosial pascabencana. “Anak-anak mengalami gangguan emosional, keluarga kehilangan ruang privasi selama di pengungsian dan hunian sementara, sementara kondisi ekonomi juga lumpuh akibat harta benda yang hilang tersapu banjir,” jelasnya. Bersama tim dari bidang konseling dan ekonomi, yakni Dina dan Mustafa, program pendampingan tersebut perlahan membawa perubahan signifikan bagi masyarakat. Warga mulai kembali percaya diri, saling menguatkan, dan memiliki semangat membangun kehidupan baru.
Melihat langsung dampak tersebut, Wamen menyampaikan apresiasi mendalam kepada para dosen dan mahasiswa USK yang telah menghadirkan pengabdian berbasis riset secara nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, kehadiran perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada ruang kelas dan publikasi ilmiah semata, tetapi harus menjadi kekuatan yang mampu memulihkan harapan masyarakat. “Ilmu pengetahuan akan menemukan makna tertingginya ketika hadir untuk mengurangi penderitaan manusia,” ungkapnya dalam dialog bersama warga.
Sebagai pakar kognitif, Wamen juga berbagi pesan kepada para orang tua agar membangun komunikasi yang mendidik dengan anak sejak dini. Aktivitas sederhana sehari-hari, menurutnya, dapat menjadi ruang membangun kemampuan berpikir matematis dan kritis anak. “Komunikasi yang mendidik adalah awal lahirnya generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan tangguh menghadapi masa depan,” ujarnya.
Dalam suasana penuh kehangatan, Wamen bahkan berjanji akan membantu mempromosikan produk kerupuk kedelai “Krab Krub” melalui media sosial pribadinya sebagai bentuk dukungan terhadap kebangkitan ekonomi warga.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke lokasi kedua di kawasan Masjid Tuha. Di sana, rombongan disambut mahasiswa dan dosen pengabdi Zulhelmi dari Program Studi Teknik Komputer USK. Melalui hasil risetnya, Zulhelmi menghadirkan teknologi panel surya yang dimanfaatkan sebagai sistem pemurnian air menjadi air layak minum dengan kapasitas produksi mencapai 2.000 liter per hari. Teknologi tersebut kini menjadi solusi penting bagi kebutuhan air bersih masyarakat setempat. Sejak difungsikan pada Februari lalu, sistem tersebut terus beroperasi dan menyuplai air minum layak konsumsi bagi warga.
Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani, berharap berbagai inovasi dan produk pengabdian dosen USK dapat terus berlanjut melalui dukungan pemerintah daerah. “Kampus tidak boleh berjalan sendiri. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat adalah kunci agar dampak baik ini terus hidup dan berkembang,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Pengabdian kepada Masyarakat LPPM USK, Dr. Sulastri, menegaskan pentingnya keberlanjutan program pasca pendampingan dosen dan mahasiswa. Menurutnya, hasil pengabdian akan memberi dampak jangka panjang apabila didukung melalui kebijakan dan penguatan dari pemerintah gampong maupun dinas terkait, termasuk dalam pengalokasian biaya perawatan dan pengembangan program. “Kita ingin pengabdian tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pengabdian harus meninggalkan dampak, menumbuhkan harapan, dan membangun kemandirian masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi merupakan fondasi utama keberlanjutan. “Ketika kampus, pemerintah, dan masyarakat bergerak bersama, maka ilmu pengetahuan tidak hanya menjadi milik ruang kelas, tetapi menjadi cahaya yang menerangi kehidupan banyak orang.”
Kunjungan itu menjadi gambaran nyata bahwa kehadiran USK bukan sekadar sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi sebagai kampus yang tumbuh bersama masyarakat, hadir saat duka, dan ikut membangun harapan. Dari Aceh untuk Indonesia, pengabdian yang dilakukan para dosen dan mahasiswa USK membuktikan bahwa kampus yang besar bukanlah kampus yang hanya tinggi dalam reputasi, tetapi kampus yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. []