Aceh, Senin 1 Juni 2026 - 1 Juni bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi momentum untuk bercermin. Pancasila lahir bukan hanya sebagai dasar negara, melainkan sebagai kompas moral yang mengarahkan bangsa Indonesia menuju keadilan, persatuan, dan kemakmuran bersama.
Namun pertanyaan yang patut kita renungkan adalah: apakah Pancasila hanya hidup dalam pidato, atau benar-benar hidup dalam perilaku kita?
Nasehat untuk Anak Bangsa
Wahai generasi penerus bangsa, jangan jadikan Pancasila sekadar hafalan lima sila yang diucapkan saat upacara. Jadikan ia sebagai nilai yang hidup dalam hati dan tindakan.
Sila Ketuhanan mengajarkan agar ilmu dan teknologi tidak menjauhkan manusia dari Tuhan. Sila Kemanusiaan mengajarkan agar kecerdasan tidak melahirkan kesombongan. Sila Persatuan mengingatkan bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan alasan untuk saling membenci.
Di era media sosial, banyak orang mudah menyebarkan fitnah, kebencian, dan permusuhan. Padahal Pancasila mengajarkan dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama.
Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam, tetapi oleh kualitas akhlak dan karakter generasinya.
Nasehat untuk Para Penguasa
Kekuasaan adalah amanah, bukan kemuliaan yang melekat selamanya. Jabatan memiliki masa, tetapi pertanggungjawaban di hadapan rakyat dan Tuhan tidak mengenal batas waktu.
Pancasila mengajarkan bahwa pemimpin bukanlah orang yang paling banyak dilayani, tetapi orang yang paling besar pengabdiannya kepada masyarakat.
Ketika keadilan mulai diperjualbelikan, ketika hukum lebih tajam kepada rakyat kecil daripada kepada orang kuat, ketika kepentingan kelompok mengalahkan kepentingan bangsa, maka sesungguhnya ruh Pancasila sedang terluka.
Penguasa yang baik bukan yang paling banyak membangun pencitraan, melainkan yang paling banyak membangun kepercayaan. Sebab sejarah tidak mengingat panjangnya pidato, tetapi mengingat manfaat yang ditinggalkan.
Pancasila dan Tanggung Jawab Bersama
Pancasila bukan hanya tugas pemerintah, bukan pula hanya tugas guru dan ulama. Pancasila adalah tanggung jawab seluruh anak bangsa.
Jika rakyat jujur, pemimpin amanah, penegak hukum adil, ulama membimbing dengan hikmah, dan kaum intelektual berpihak kepada kebenaran, maka Pancasila akan hidup bukan di atas kertas, tetapi dalam kenyataan.
Penutup
Pada Hari Lahir Pancasila ini, marilah kita kembali merenungkan pesan para pendiri bangsa:
“Jangan jadikan Pancasila sekadar semboyan yang dipajang di dinding. Jadikan ia cahaya yang menerangi hati, mengarahkan kebijakan, dan membimbing langkah bangsa menuju Indonesia yang adil, makmur, dan bermartabat.”
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dari masalah, tetapi bangsa yang tetap setia pada nilai-nilai luhurnya di tengah segala tantangan zaman.
Selamat Hari Lahir Pancasila. Mari merawat persatuan, menegakkan keadilan, dan menghidupkan nilai-nilai luhur bangsa dalam setiap langkah kehidupan.
Opini, 1 Juni 2026 - Aceh Selatan
Penulis : Muksin, M.A
Di Publis : Wahyu