ACEH TIMUR – Ada pemimpin yang dikenal karena ketegasannya. Ada pula yang dikenang karena kelembutannya. Namun di Aceh Timur, dua karakter itu seolah menyatu dalam sosok Bupati Iskandar Usman Al-Farlaky.
Di ruang kerja dan meja pemerintahan, ia dikenal tegas. Langkahnya cepat, sikapnya lugas, dan persoalan rakyat tidak ingin dibiarkan berlarut-larut.
Tetapi ketika berada di tengah masyarakat, wajah lain dari seorang Iskandar Usman Al-Farlaky justru terlihat.
Hangat. Dekat. Dan penuh empati.
Salah satu potret yang belakangan menjadi perhatian publik adalah momen kehangatan Al-Farlaky bersama seorang warga. Dalam foto yang beredar di media sosial, seorang ibu tampak memegang kedua pipi sang bupati dengan penuh kasih. Sebuah gestur sederhana, tetapi menyimpan pesan yang jauh lebih dalam tentang hubungan emosional antara pemimpin dan rakyatnya.
Tidak ada jarak kekuasaan dalam momen itu.
Yang terlihat justru seperti hubungan seorang anak dengan orang tua.
Julukan “Bupati Garang” yang melekat kepada Al-Farlaky pun seakan mendapatkan makna baru. Garang dalam arti tegas ketika memperjuangkan kepentingan daerah, tetapi lembut ketika berhadapan dengan masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
Ketika Banjir Menguji Kepemimpinan
Karakter tersebut semakin terlihat ketika banjir melanda sejumlah wilayah Aceh Timur.
Di tengah kepanikan warga dan kepungan air, Al-Farlaky tidak sekadar menerima laporan dari balik meja pemerintahan. Ia turun melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak.
Bagi warga yang kehilangan akses, harta benda, bahkan harus berhadapan dengan keterbatasan kebutuhan sehari-hari, kehadiran seorang pemimpin di lokasi bencana memiliki arti tersendiri.
Namun bagi Al-Farlaky, turun ke lapangan bukan sekadar simbol kepedulian.
Ada pekerjaan yang harus diperjuangkan setelahnya.
Bantuan dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi terus didorong agar dapat segera menjangkau masyarakat terdampak. Ia menyadari, bagi korban bencana, bantuan bukan sekadar angka dalam laporan administrasi. Bantuan adalah kebutuhan nyata yang menentukan bagaimana mereka dapat kembali bangkit.
“Kami tidak akan berhenti berjuang sampai bantuan sampai ke tangan masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Ini amanah rakyat yang harus kami tunaikan,” tegas Iskandar Usman Al-Farlaky, Senin (14/9/2026).
Kalimat itu menjadi gambaran bagaimana ia memandang jabatan sebagai sebuah tanggung jawab, bukan sekadar posisi.
Rakyat Melihat dari Dekat
Bagi masyarakat, kepemimpinan tidak selalu diukur dari pidato panjang atau seremonial pemerintahan.
Terkadang, ukuran itu justru terlihat dari hal-hal sederhana: apakah pemimpin mau datang ketika rakyat sedang susah, apakah mau mendengar keluhan, dan apakah benar-benar memperjuangkan apa yang dibutuhkan masyarakat.
Di titik itulah sosok Al-Farlaky mendapatkan tempat tersendiri di tengah warga Aceh Timur.
Kedekatan tersebut membuat banyak masyarakat tidak melihatnya hanya sebagai seorang kepala daerah, tetapi sebagai sosok yang mudah ditemui dan bersedia berada di tengah mereka.
Foto seorang ibu yang memegang kedua pipinya mungkin hanya berlangsung dalam hitungan detik.
Namun bagi masyarakat, momen itu menggambarkan sesuatu yang lebih besar: kedekatan emosional antara rakyat dengan pemimpinnya.
Tegas di Pemerintahan, Lembut di Tengah Rakyat
Memimpin sebuah daerah dengan wilayah luas dan persoalan yang kompleks tentu bukan pekerjaan mudah. Aceh Timur menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pemulihan pascabencana hingga kebutuhan pembangunan yang terus meningkat.
Karena itu, ketegasan menjadi bagian penting dalam menjalankan pemerintahan.
Namun ketegasan tanpa empati dapat menciptakan jarak.
Sebaliknya, kelembutan tanpa ketegasan bisa membuat persoalan tidak segera diselesaikan.
Al-Farlaky berusaha mempertemukan keduanya.
Ia ingin pemerintah bergerak cepat ketika masyarakat membutuhkan, tetapi tetap hadir dengan pendekatan yang manusiawi.
Bersama Wakil Bupati T. Zainal Abidin, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur terus mendorong pemulihan pascabanjir sekaligus pembangunan daerah.
Bagi masyarakat yang pernah merasakan langsung dampak bencana, kehadiran pemerintah bukan sekadar tentang program dan anggaran.
Ia adalah tentang rasa aman.
Tentang keyakinan bahwa mereka tidak sendirian ketika musibah datang.
Dan mungkin, di situlah julukan “Bupati Garang” menemukan sisi yang paling menarik.
Di balik ketegasan seorang pemimpin, ternyata ada hati yang lembut ketika berhadapan dengan rakyat.
Tegas ketika memperjuangkan kepentingan daerah, tetapi tetap hangat ketika menggenggam tangan masyarakat. []
Editor : Wahyu