JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago mengingatkan bahwa ancaman terhadap bangsa Indonesia kini tidak hanya datang dari medan fisik. Perkembangan teknologi telah membuka medan baru yang tak kalah strategis, yakni ruang digital.
Menurut Djamari, derasnya arus informasi di media sosial dapat menjadi tantangan serius apabila tidak diimbangi kedisiplinan, kebersamaan, serta kemampuan masyarakat menyaring informasi.
Hal itu disampaikan Djamari saat memberikan pengarahan dalam konsolidasi organisasi Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI), sekaligus membuka Seminar Nasional Bela Negara DPN IARMI Tahun 2026 dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IARMI Tahun 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Djamari menegaskan, disiplin bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan, melainkan nilai yang harus melekat dalam setiap bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.
“Disiplin adalah nafas saya, kesetiaan kepada bangsa adalah kebanggaan saya, dan kehormatan adalah segala-galanya,” ujar Djamari di hadapan pengurus DPN IARMI periode 2026–2040.
Ia juga mengapresiasi kedisiplinan dan jiwa korsa yang dinilai masih kuat di lingkungan IARMI. Menurutnya, modal tersebut penting untuk memperkuat ketahanan bangsa menghadapi berbagai bentuk ancaman.
Djamari kemudian menyoroti perubahan karakter ancaman di era teknologi. Jika dahulu pertempuran identik dengan medan fisik, kini ruang digital dan media sosial telah menjadi arena pertarungan baru.
Ia menggambarkan ruang tersebut sebagai “Padang Kurusetra” masa kini, tempat berbagai informasi, narasi, dan pengaruh saling berhadapan.
“Saat ini hingga masa depan, perang kita ada di medan digital. Sesuatu yang tidak baik bisa diterima menjadi baik manakala terus diposting berulang-ulang,” tegasnya.
Djamari mengingatkan, penyebaran disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian secara terus-menerus berpotensi memengaruhi cara pandang masyarakat, terutama generasi muda.
“Jika ini dibiarkan, secara perlahan kita akan membentuk generasi yang apatis,” katanya.
Karena itu, ia mengajak anggota IARMI bersama seluruh elemen masyarakat untuk ikut membimbing generasi muda agar lebih kritis dan bijak dalam menggunakan media sosial.
Kemampuan memilah informasi, menurutnya, menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan bangsa di tengah perubahan lingkungan strategis.
Dalam kesempatan tersebut, Djamari juga mendorong Rakernas IARMI tidak sekadar menjadi agenda organisasi, tetapi dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi dan penyatuan visi.
Ia berharap forum tersebut mampu melahirkan program kerja yang konkret, terukur, dan dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan ketahanan bangsa.
“Pekerjaan yang besar dan berat tidak mungkin dilakukan oleh orang yang terpisah-pisah tanpa adanya kebersamaan. Tanpa kebersamaan dan kedisiplinan, mustahil kita bisa menjadi negara yang kuat,” ujarnya.
Djamari juga mengingatkan jajaran Dewan Pimpinan Nasional (DPN) IARMI mengenai komitmen yang telah diikrarkan. Menurutnya, sumpah dan komitmen organisasi harus diwujudkan melalui kesungguhan dalam menjalankan tugas-tugas yang telah dipercayakan.
Menutup sambutannya, Djamari secara resmi membuka Seminar Nasional Bela Negara DPN IARMI Tahun 2026 dan Rakernas IARMI Tahun 2026.
Ia berharap kegiatan tersebut menghasilkan gagasan, keputusan, dan program nyata yang dapat mendukung penguatan organisasi sekaligus memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah pengurus DPN IARMI juga dilantik, yakni Bahrullah Akbar sebagai Ketua Umum, Riza Patria sebagai Sekretaris Jenderal, dan Arifin sebagai Bendahara Umum.
Kegiatan turut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus. Menko Polkam juga didampingi Deputi Bidang Koordinasi Pertahanan Negara dan Kesatuan Bangsa serta sejumlah pejabat tinggi madya di lingkungan Kemenko Polkam. []
Kontributor : Wahyu
Editor : Rizki Maulizar