“Life jacket yang ditemukan tim bukan milik kapal Arupadatu 1 karena berbeda dengan yang saya miliki. Saya mengambil pembanding dari perlengkapan yang ada di Arupadatu 2,” ujar Sandi, Jumat (11/9/2026).
PANDEGLANG – Misteri hilangnya kontak kapal Arupadatu 1 yang membawa rombongan awak kapal dan wartawan di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, masih terus menjadi perhatian tim SAR gabungan.
Di tengah proses pencarian yang masih berlangsung, sempat muncul informasi mengenai temuan sebuah life jacket di perairan sekitar Anyer. Benda tersebut kemudian diamankan tim untuk diperiksa dan didalami guna memastikan apakah memiliki kaitan dengan kapal yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Namun, harapan bahwa temuan tersebut merupakan petunjuk penting dalam pencarian akhirnya terbantahkan.
Pemilik kapal, Sandi, memastikan life jacket yang ditemukan bukan bagian dari perlengkapan kapal Arupadatu 1. Kepastian itu diperoleh setelah dilakukan perbandingan dengan perlengkapan yang digunakan pada kapal Arupadatu 2.
“Life jacket yang ditemukan tim bukan milik kapal Arupadatu 1 karena berbeda dengan yang saya miliki. Saya mengambil pembanding dari perlengkapan yang ada di Arupadatu 2,” ujar Sandi, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, perbedaan terlihat cukup jelas, mulai dari bagian resleting, grip hingga material bahan yang digunakan.
“Dapat dipastikan bahwa objek life jacket yang ditemukan tersebut tidak berkaitan dengan perlengkapan yang berada di speedboat Arupadatu 1 yang dilaporkan hilang kontak,” tegasnya.
Dengan demikian, temuan life jacket di sekitar Anyer tersebut belum dapat dijadikan petunjuk keberadaan rombongan Arupadatu 1. Tim masih melakukan pencarian dan pendalaman terhadap berbagai informasi yang masuk.
Di sisi lain, proses identifikasi juga mulai dipersiapkan secara serius oleh tim medis Polda Banten.
Kabiddokkes Polda Banten Kombes Pol Dr. I Gusti Gede Dharma Arimbawa mengatakan, pihaknya terus melakukan proses antemortem sebagai bagian dari prosedur identifikasi apabila dalam operasi pencarian nantinya ditemukan korban.
“Dalam penanganan korban bencana, proses identifikasi dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain pemeriksaan tempat kejadian perkara, pengumpulan data antemortem, pemeriksaan postmortem, serta rekonsiliasi,” jelasnya.
Hingga saat ini, pihaknya telah menerima delapan data antemortem dari keluarga korban.
Data tersebut nantinya akan dibandingkan dengan data postmortem apabila korban ditemukan. Identitas baru dapat dinyatakan setelah kedua data tersebut dinyatakan sesuai atau matching.
“Apabila data antemortem dan postmortem telah sesuai atau matching, barulah dapat dinyatakan identitas korban,” katanya.
Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea kembali mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan setiap benda atau informasi yang muncul selama proses pencarian.
Ia meminta masyarakat tetap tenang dan tidak menyebarluaskan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan operasi pencarian akan disampaikan melalui informasi resmi dari Polda Banten dan tim SAR gabungan.
“Kami meminta masyarakat mengikuti informasi resmi yang disampaikan oleh Polda Banten maupun tim SAR gabungan,” tutup Maruli. []
Sumber : Polda Banten
Editor : Redaksi