Program ini tidak hanya fokus pada peningkatan gizi siswa, tetapi juga dirancang untuk menjadi motor penggerak ekonomi perdesaan melalui penyerapan hasil pertanian lokal secara langsung.
Ketua DPD Tani Merdeka Aceh Tamiang, M. Prawira Haji, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya berperan aktif memastikan komoditas hasil panen petani di wilayah "Bumi Muda Sedia" terserap ke dapur-dapur satuan pelayanan gizi.
Dengan adanya kebutuhan pasokan pangan skala besar yang berkelanjutan, para petani kini memiliki kepastian pasar dan harga yang lebih stabil.
Program MBG ini adalah jembatan nyata antara kesejahteraan petani dan kesehatan generasi masa depan. Kami memastikan bahwa bahan baku seperti beras, sayuran, hingga sumber protein berasal dari petani lokal di desa-desa kita sendiri," ujar Prawira dalam keterangannya.
Langkah strategis ini sejalan dengan arahan Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, yang menyatakan bahwa perputaran uang dari anggaran makan siang gratis akan tetap tinggal di desa-desa.
Hal ini diharapkan mampu menekan angka kemiskinan serta memicu pertumbuhan sektor UMKM pengolahan pangan di tingkat akar rumput.
Di Aceh Tamiang sendiri, program ini telah mulai menunjukkan geliatnya di berbagai sekolah, salah satunya di Manyak Payed, di mana ratusan porsi makanan bergizi disalurkan kepada para siswa.
DPD Tani Merdeka Aceh Tamiang juga terus berkoordinasi dengan dinas terkait, termasuk Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian, untuk memantau standar kualitas bahan pangan sekaligus memfasilitasi kebutuhan alat mesin pertanian (alsintan) bagi kelompok tani guna meningkatkan produktivitas.
Dengan sinergi antara pemerintah dan organisasi tani, Program MBG di Aceh Tamiang optimis mampu mewujudkan swasembada pangan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi di setiap desa.(***)
