YOGYAKARTA – Wacana Program Makan Bergizi Gratis masuk kampus lewat skema “Satu Dapur Satu Kampus” kena semprot. Ketua Umum KMMD FIP UNY Nuzulul Azmi sebut kebijakan itu gagal paham hakikat perguruan tinggi.
“Kampus bukan dapur program populis. Kampus adalah ruang lahirnya gagasan, riset, inovasi, dan penguatan kualitas manusia,” tegas Nuzulul, tokoh muda pendidikan konseling. Sabtu (9/5/2026)
Azmi nilai MBG di PT tak nyambung dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, pengabdian. Masalah kampus hari ini jauh lebih mendesak:
1. Biaya kuliah mahal
2. Beasiswa terbatas
3. Budaya riset lemah
4. Dukungan inovasi rendah
5. Krisis kesehatan mental mahasiswa
“Tapi pemerintah malah dorong kebijakan konsumtif dan simbolik,” kritiknya.
Sebagai pakar konseling, Azmi sorot tekanan psikologis mahasiswa: burnout akademik, cemas masa depan, tekanan ekonomi, krisis identitas, hingga naiknya gangguan mental.
“Kesehatan mental mahasiswa tidak diselesaikan dengan slogan satu dapur satu kampus. Yang dibutuhkan: ruang belajar sehat, akses bantuan psikologis, dan jaminan masa depan pendidikan,” katanya.
Azmi tolak keras kampus jadi ruang distribusi program sarat populisme politik. Independensi dan marwah akademik harus dijaga.
Anggaran pendidikan, kata dia, harusnya untuk:
1. Perkuat kualitas dosen
2. Perluas riset dan inovasi
3. Tingkatkan fasilitas akademik
4. Perbesar akses beasiswa
5. Bangun sistem kesehatan mental terintegrasi
“Bukan diarahkan ke program yang nggak sentuh akar masalah PT,” tegasnya.
Azmi tutup dengan tamparan keras: “Mahasiswa membutuhkan ruang tumbuh, bukan sekadar ruang makan. Bangsa besar dibangun melalui pendidikan yang kuat dan manusia yang sehat secara mental, bukan melalui kebijakan populis yang kehilangan arah substansi.” (*)
Sumber : Nuzulul Azmi
Ketua Umum KMMD FIP UNY
Tokoh Muda Pendidikan Konseling