Sekretaris Jenderal DPP Fast Respon Indonesia Center (FRIC), H. Deden Hardening. Foto: Dok Humasfricdpp.
LENSAMERAHPUTIH.COM | JAKARTA — Ancaman penipuan online kian hari semakin berkembang dengan berbagai modus yang semakin canggih dan sulit dikenali. Menyikapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal DPP Fast Respon Indonesia Center (FRIC), H. Deden Hardening, mengingatkan masyarakat agar tidak lengah dan selalu meningkatkan kewaspadaan dalam beraktivitas di dunia digital.
“Jangan sampai kita menjadi korban berikutnya. Saat ini pelaku kejahatan siber semakin pintar dalam memanfaatkan celah, bahkan mampu menyamar seolah-olah sebagai pihak resmi. Ini yang harus kita waspadai bersama,” ujar H. Deden Hardening dalam keterangannya, Sabtu (2/5/2026).
Ia menjelaskan, berbagai modus penipuan yang marak terjadi antara lain phishing melalui pesan singkat atau email, penipuan berkedok hadiah, hingga penyamaran sebagai petugas bank atau instansi tertentu. Tidak jarang, pelaku juga memanfaatkan media sosial dan aplikasi pesan instan untuk menjaring korban.
Menurutnya, langkah pencegahan sebenarnya cukup sederhana namun sering diabaikan. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya terhadap pesan atau tautan mencurigakan, tidak membagikan data pribadi seperti PIN, OTP, maupun kata sandi, serta selalu melakukan verifikasi terhadap informasi yang diterima.
“Kesadaran digital harus menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat saat ini. Jangan sembarangan klik link, jangan mudah tergiur iming-iming hadiah, dan pastikan selalu cek kebenaran informasi sebelum bertindak,” tegasnya.
FRIC juga mendorong peran aktif seluruh elemen masyarakat untuk saling mengingatkan dan melaporkan jika menemukan indikasi penipuan. Kolaborasi antara masyarakat, lembaga, dan aparat penegak hukum dinilai menjadi kunci dalam menekan angka kejahatan siber di Indonesia.
“Perlindungan terbaik dimulai dari diri sendiri. Dengan kewaspadaan dan pengetahuan yang cukup, kita bisa meminimalisir risiko menjadi korban penipuan online,” tutup H. Deden Hardening.
Dengan meningkatnya literasi digital dan kewaspadaan masyarakat, diharapkan ruang gerak pelaku kejahatan siber dapat semakin dipersempit, sehingga tercipta ekosistem digital yang lebih aman dan terpercaya bagi seluruh masyarakat Indonesia.