Iklan Parlemen

terkini

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Naik ke Level III (Siaga), Masyarakat Dilarang Beraktivitas dalam Radius 3 Kilometer

Selasa, 07 Juli 2026, 00.41 WIB Last Updated 2026-07-06T17:41:18Z
Foto: Istimewa


Lampung – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi resmi menaikkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada Kamis, 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB. Keputusan tersebut tertuang dalam Laporan Khusus Nomor 1154.Lap/GL.03/BGL.2026 setelah hasil pemantauan menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Aktivitas gunung api ini dipantau melalui dua Pos Pengamatan Gunung Api, yakni di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

PVMBG menjelaskan bahwa sejak awal Juni 2026 telah terdeteksi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Citra Satelit Sentinel menunjukkan adanya emisi gas sulfur dioksida (SO₂), anomali panas, serta munculnya titik api di kawah sejak 10 Juni 2026. Fenomena tersebut disertai keluarnya asap kawah dengan intensitas cukup tinggi dan peningkatan signifikan jumlah gempa vulkanik dangkal, seperti gempa hembusan, hybrid/fase banyak, dan low frequency.

Dalam dua hari pengamatan pada 18–19 Juni 2026, rata-rata gempa hembusan, hybrid, dan low frequency tercatat lebih dari 50 kali per hari. Kondisi ini mengindikasikan adanya dinamika magma di bagian dangkal Gunung Anak Krakatau meskipun belum diikuti peningkatan gempa vulkanik dalam maupun deformasi yang signifikan.

Selama periode 16 Juni hingga 2 Juli 2026, PVMBG mencatat sebanyak 740 gempa hembusan, 24 gempa harmonik, 247 gempa low frequency, 520 gempa hybrid/fase banyak, 16 gempa tremor menerus, 2 gempa vulkanik dangkal, 3 gempa vulkanik dalam, 1 gempa tektonik lokal, dan 5 gempa tektonik jauh.

Sementara itu, hasil pemantauan deformasi menggunakan tiltmeter di Stasiun Kras dan Lava93 menunjukkan pola fluktuatif dengan kecenderungan stabil. Adapun Stasiun Tanjung memperlihatkan adanya kecenderungan inflasi atau penggembungan tubuh gunung dalam skala rendah.

Peningkatan aktivitas semakin terlihat sejak 26 Juni 2026. Intensitas gempa hembusan terus meningkat bersamaan dengan keluarnya asap kawah berwarna kelabu yang mengandung abu vulkanik tipis dan bergerak ke arah barat hingga barat laut. Abu vulkanik tersebut juga terdeteksi oleh satelit yang dioperasikan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, Australia. Selain itu, grafik Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) sejak 30 Juni menunjukkan kecenderungan peningkatan energi seismik meski masih dalam skala rendah.

Pada Kamis, 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal bergerak ke arah barat laut. Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi sekitar 20 detik.

Berdasarkan hasil analisis menyeluruh terhadap data visual, kegempaan, deformasi, dan pengamatan satelit, PVMBG menetapkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III (Siaga).

Seiring dengan peningkatan status tersebut, masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang memasuki maupun melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya berupa awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

PVMBG turut mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung agar tetap tenang serta tidak mudah mempercayai isu-isu yang menyebutkan erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami. Masyarakat diharapkan tetap beraktivitas seperti biasa dengan tetap mengikuti informasi resmi dan arahan dari BPBD setempat.

PVMBG menegaskan bahwa perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus dipantau dan dievaluasi secara berkala. Status Level III (Siaga) akan tetap berlaku hingga diterbitkannya hasil evaluasi berikutnya atau apabila terjadi perubahan aktivitas vulkanik yang signifikan.

Sumber : Badan Geologi
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Aktivitas Gunung Anak Krakatau Naik ke Level III (Siaga), Masyarakat Dilarang Beraktivitas dalam Radius 3 Kilometer

Terkini

Iklan Parlemen