PIDIE – Pabrik rotan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie di Gampong Peunayong, Kecamatan Peukan Baro, yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp6,5 miliar dari dana Otonomi Khusus (Otsus) pada 2007, kini terbengkalai. Bangunan yang awalnya diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat tersebut justru memicu keresahan warga karena dipenuhi semak belukar dan diduga menjadi tempat persembunyian ular.
Berdasarkan pantauan Media Lensamerahputih, Senin (2/11/2026), kawasan pabrik yang berada di ruas jalan Bambi–Lampoh Saka itu tampak tidak terawat. Rumput liar tumbuh lebat hingga menutupi sebagian bangunan dan akses masuk pabrik.
Kondisi tersebut bukan hanya membuat aset daerah bernilai miliaran rupiah tidak produktif, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.
Seorang warga Gampong Peunayong, Muhammad, mengatakan ular piton berukuran sebesar paha orang dewasa kerap terlihat melintas dari kawasan pabrik.
"Kondisi ini membuat warga resah. Bahkan, keluarga yang tinggal di rumah tepat di depan pabrik sudah pindah karena takut dengan keberadaan ular," ungkap Muhammad.
Selain ancaman kemunculan ular, suara bising dari bagian atap pabrik, terutama pada malam hari ketika angin bertiup, juga mengganggu kenyamanan warga.
Ia berharap Pemkab Pidie segera mengambil langkah nyata untuk membersihkan dan mengamankan kawasan pabrik. Menurutnya, masyarakat setempat juga dapat dilibatkan dalam menjaga kebersihan lingkungan tersebut.
"Seharusnya pemerintah melibatkan warga untuk menjaga kebersihan pabrik. Kami juga berharap pabrik ini bisa kembali beroperasi sehingga keberadaannya benar-benar bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.
Keuchik Gampong Peunayong, Junaidi, membenarkan keresahan masyarakat akibat kondisi pabrik yang sudah lama tidak terurus.
Ia menyebutkan, sejumlah mesin produksi rotan masih berada di dalam bangunan. Artinya, fasilitas yang dibangun menggunakan anggaran besar tersebut masih menyimpan aset yang perlu mendapat perhatian dan pengamanan pemerintah.
Junaidi juga mengungkapkan, saat pengurusan akta tanah pada 2024, pihak Pemkab Pidie sempat menyampaikan rencana masuknya investor untuk mengaktifkan kembali pabrik rotan tersebut. Namun, hingga kini rencana itu belum terealisasi.
"Sudah terlalu lama tidak beroperasi. Kami berharap Pemkab Pidie melibatkan pihak gampong dalam menjaga dan mengelola aset bernilai miliaran rupiah ini," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Pidie, Cut Afrianidar, mengakui pihaknya masih menunggu kepastian investor yang berminat mengelola pabrik rotan tersebut.
Ia menjelaskan, pabrik itu sebelumnya pernah dikelola PT Aida Rattan Industry dari Jawa Barat pada 2018. Namun, aktivitas produksi akhirnya terhenti karena izin penggunaan bahan baku rotan dari kementerian terkait tidak terbit.
Terkait kondisi lingkungan pabrik yang kini dipenuhi semak belukar, Cut Afrianidar menyatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah gampong untuk melakukan pembersihan kawasan.
"Kami juga akan kembali berkoordinasi dengan investor yang berencana masuk untuk mengelola pabrik rotan tersebut," ujarnya.
Terbengkalainya pabrik rotan Peunayong menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkab Pidie. Selain persoalan kebersihan dan keselamatan warga, kepastian pengelolaan aset serta nasib mesin produksi di dalam bangunan perlu mendapat perhatian serius.
Masyarakat kini menunggu langkah konkret pemerintah agar pabrik yang dibangun dengan dana Otsus sekitar Rp6,5 miliar itu tidak terus menjadi bangunan terbengkalai, melainkan dapat kembali beroperasi dan memberikan manfaat ekonomi bagi daerah. [*]
Editor : Wahyu