Iklan Parlemen

terkini

KPA Kecam Insiden Penembakan Warga di Pulo Kenari Pidie, Desak TNI Usut dan Tindak Tegas Oknum Terlibat

Kamis, 05 November 2026, 14.03 WIB Last Updated 2026-11-05T07:03:02Z
Selongsong peluru yang diamankan warga Pulo Kenari, Kecamatan Tiro/Truseb, Pidie, usai kericuhan antara warga dan aparat. Rabu (4/11/2026). (foto/dok.ist)


BANDA ACEH – Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat, Bang Jack Libya, mengecam keras insiden penembakan warga yang terjadi di Gampong Pulo Kenari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, saat berlangsungnya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Rabu (4/11/2026).

Bang Jack menyebutkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, seorang warga dilaporkan terkena tembakan yang diduga dilepaskan oleh aparat TNI dalam insiden tersebut.

Ia menilai peristiwa itu merupakan tindakan serius yang tidak boleh dipandang sebelah mata karena berpotensi mencederai semangat perdamaian Aceh yang telah dibangun melalui perjanjian Helsinki antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia.

Menurut Bang Jack, setiap tindakan aparat keamanan dalam menghadapi persoalan di tengah masyarakat harus tetap berpedoman pada aturan hukum, mengedepankan pendekatan persuasif, serta menjunjung tinggi hak-hak warga sipil.

"Persoalan yang terjadi di tengah masyarakat seharusnya diselesaikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Penggunaan senjata api terhadap masyarakat merupakan persoalan serius yang harus diusut secara transparan," demikian sikap yang disampaikan Bang Jack.

Atas kejadian tersebut, ia meminta pimpinan TNI mengambil langkah tegas dengan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap personel yang diduga terlibat. Jika terbukti melakukan pelanggaran, anggota yang bersangkutan harus diproses sesuai hukum dan ketentuan yang berlaku.

Di sisi lain, Bang Jack mengimbau seluruh pihak, terutama masyarakat, agar tetap menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh situasi.

Ia meminta semua pihak memberikan ruang kepada pimpinan TNI untuk menyikapi persoalan tersebut melalui mekanisme yang tepat, sehingga penyelesaian dapat dilakukan secara objektif dan tidak memicu persoalan baru.

Selain menyoroti insiden di Pulo Kenari, Bang Jack juga mengingatkan pentingnya menjaga suasana kondusif di tengah berlangsungnya komunikasi politik antara Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat.

Menurutnya, saat ini para pimpinan Aceh, mulai dari Gubernur, Wakil Gubernur hingga Ketua DPRA, tengah mengupayakan penyelesaian sejumlah persoalan strategis bersama jajaran Pemerintah Pusat.

Persoalan tersebut mencakup polemik Bendera Bulan Bintang, status tanah wakaf Blang Padang, serta pembahasan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA).

Dalam proses komunikasi tersebut, turut disebutkan keterlibatan Menko Polkam Jenderal Dudung Abdurachman dan Menko Kumham Imipas Prof. Yusril Ihza Mahendra.

Bang Jack berharap seluruh proses dialog dan komunikasi yang sedang berjalan dapat terus berlangsung secara konstruktif demi kepentingan masyarakat Aceh.

Ia mengingatkan agar insiden penembakan di Pulo Kenari tidak sampai merusak kepercayaan dan mengganggu upaya penyelesaian berbagai persoalan antara Aceh dan Pemerintah Pusat.

"Semua pihak harus menahan diri. Kita berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara adil, transparan, dan sesuai hukum, tanpa mengganggu proses dialog yang sedang diupayakan demi masa depan Aceh," demikian harapannya.

KPA menegaskan bahwa penyelesaian insiden Pulo Kenari harus mengedepankan keadilan, penegakan hukum, dan komitmen bersama untuk menjaga perdamaian Aceh.

Sebelumnya, Perayaan Maulid Nabi di Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, berujung ricuh. Insiden yang diduga dipicu persoalan pengibaran bendera Bulan Bintang tersebut mengakibatkan satu warga meninggal dunia dan enam lainnya mengalami luka-luka.

Salah seorang korban meninggal dunia diketahui bernama Abzalul Rizal (20), warga Dayah Gampong Baro. Ia dilaporkan mengalami luka tembak dalam insiden tersebut.

Selain satu korban meninggal, enam warga lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Mereka masing-masing Basri Hasan (46), warga Dayah Cot; Muhammad (48) dan Musliadi (40), warga Pulo Keunari; Darul Kamal (52), warga Paya Cot; serta Juanda Cut Rahman (62), warga Meunasah Mancang dan Mutia (30), warga Gampong Pulo Keunari.

Suami Mutia, Iskandar, mengungkapkan kepada Lensamerahputih bahwa istrinya sedang dalam perjalanan pulang setelah berbelanja ketika peristiwa itu terjadi. Ia menduga istrinya menjadi korban penganiayaan aparat, mengingat lokasi penemuan korban disebut berjarak lebih dari 100 meter dari titik bentrokan.

"Menurut saya, saat kejadian itu siapa pun yang berada di lokasi berisiko mendapatkan penganiayaan dari aparat keamanan," ujar Iskandar kepada Lesamerahputih, Rabu (4/11/2026). [*]


Penulis : Wahyu
Editor    : Redaksi
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • KPA Kecam Insiden Penembakan Warga di Pulo Kenari Pidie, Desak TNI Usut dan Tindak Tegas Oknum Terlibat

Terkini

Iklan Parlemen