Bogor - Di tengah ancaman “Godzilla El Nino” yang diprediksi melanda April hingga Oktober 2026, IPB University menawarkan langkah murah dan praktis untuk menangkal serangan hama padi.
Tawaran itu disampaikan Prof. Hermanu, dosen IPB University, saat kunjungan kerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Science Technopark IPB di Bogor, Kamis (9/4/2026).
“Kalau tidak hati-hati sejak musim tanam, dampaknya bisa luas. Karena itu perlu gerakan masal,” ujar Prof. Hermanu.
Menurutnya, kemarau panjang akibat El Nino tak hanya menekan produksi padi, tetapi juga memicu ledakan hama seperti penggerek batang dan Wereng Batang Cokelat (WBC). Karena itu, strategi preemptif atau pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibanding memberantas setelah hama menyerang.
Langkah paling sederhana adalah mengumpulkan kelompok telur penggerek batang di fase persemaian. “Alatnya sederhana, bisa dari botol mineral yang dibalik. Ini langkah praktis untuk mengantisipasi ledakan penggerek sejak dini,” jelasnya.
Secara ekonomi, langkah ini sangat efisien. Satu kelompok telur berisi rata-rata 50 telur dan berpotensi merusak 300 malai padi atau setara 1,2 kg gabah kering panen. Dengan harga GKP Rp6.500 per kilogram, memusnahkan satu kelompok telur sama dengan menyelamatkan Rp8.125. Jika dilakukan masif, kerugiannya bisa ditekan miliaran rupiah.
Prof. Hermanu juga mengingatkan ancaman WBC yang mampu membuat ribuan hektare sawah gagal panen dalam hitungan hari. WBC juga menularkan virus kerdil yang membuat tanaman tak berproduksi.
Untuk itu, ia mendorong gerakan partisipatif melibatkan masyarakat, termasuk anak sekolah. Pengumpulan telur bisa dijadikan kegiatan edukatif dengan insentif Rp500 hingga Rp2.000 per kelompok telur. Selain bantu petani, cara ini menumbuhkan kecintaan generasi muda pada pertanian.
“Pendekatan preemptif murah seperti ini adalah kunci. Kalau kita bisa menahan populasi dari awal, maka ekosistem sawah tetap seimbang, penggunaan insektisida bisa ditekan, dan risiko ledakan hama besar seperti WBC dapat dihindari,” tegasnya.