Jakarta - Indonesia berpeluang besar di pasar pupuk global menyusul terganggunya jalur distribusi internasional di Selat Hormuz. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyebut krisis ini membuka pintu ekspor pupuk Indonesia ke berbagai negara.
“Sepertiga distribusi pupuk dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan di sana membuat banyak negara kesulitan pasokan, terutama urea. Kita adalah salah satu produsen urea terbesar di dunia,” kata Wamentan yang akrab disapa Mas Dar, Kamis (9/4/2026).
Sejumlah negara sudah menghubungi pemerintah Indonesia untuk mengamankan pasokan. India, Filipina, dan Australia bahkan menyatakan siap membeli berapa pun harganya. “Saya sudah menerima surat dari pemerintah Filipina dan Australia. Mereka siap membeli dengan harga berapapun,” ungkapnya.
Tingginya permintaan membuat pemerintah membatalkan rencana menutup sejumlah pabrik pupuk dalam negeri. “Pabrik-pabrik yang tadinya direncanakan kita suntik mati, sekarang tidak jadi. Karena ternyata permintaan sangat tinggi,” jelas Wamentan Sudaryono.
Wamentan Sudaryono mengaku sudah melaporkan perkembangan ini kepada Presiden Prabowo Subianto, termasuk potensi komunikasi dari pemimpin negara lain terkait kebutuhan pupuk.
Dalam setahun ke depan, Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) menargetkan ekspor pupuk mencapai 1,5 juta ton. Meski begitu, pemerintah menegaskan kebutuhan petani dalam negeri tetap prioritas utama.
“Dan pastinya kebutuhan pupuk petani di dalam negeri pasti kita penuhi terlebih dahulu. Itu tidak akan kita utak-atik,” tegas Wamentan Sudaryono, yang juga Ketua Umum HKTI.