BIREUEN — Semangat perdamaian dan nasionalisme mewarnai peringatan 21 tahun perdamaian Aceh sekaligus menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. DPW Muda Seudang Kabupaten Bireuen bersama LSM Putroe Aceh Bireuen menggandeng berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan sosial dan kebangsaan di Dayah Al-Manna, Desa Meunasah Tgk. Di Gadong, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, Sabtu (15/8/2026).
Sekitar 100 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari unsur pemuda, organisasi mahasiswa, santri, tokoh masyarakat dan warga setempat. Kebersamaan berbagai elemen ini menjadi gambaran bahwa semangat perdamaian tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kegiatan diawali dengan doa bersama dan tausiyah, kemudian dilanjutkan dengan santunan kepada anak yatim serta pembagian Bendera Merah Putih kepada masyarakat.
Pembagian bendera tidak sekadar menjadi bagian dari semarak menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Momentum tersebut juga dimanfaatkan sebagai ajakan kepada masyarakat untuk memperkuat rasa persatuan, kepedulian dan kecintaan terhadap tanah air di tengah suasana damai Aceh yang telah terjaga selama lebih dari dua dekade.
Ketua DPW Muda Seudang Kabupaten Bireuen, Sayed Chairul Raziq, mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, untuk menjadi bagian penting dalam menjaga perdamaian Aceh.
Menurutnya, perdamaian yang telah dicapai bukanlah sesuatu yang boleh dianggap biasa. Perdamaian harus diisi dengan kegiatan positif, kepedulian sosial, pendidikan, pembangunan dan penguatan persaudaraan antarsesama.
Sayed juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu yang berpotensi memecah persaudaraan.
«“Mari kita rawat perdamaian tanpa melupakan sejarah. Mari kita perjuangkan Aceh tanpa memusuhi Indonesia. Mari kita kritis tanpa kehilangan persaudaraan dan berbeda pilihan tanpa kehilangan persatuan,” ujar Sayed.»
Ia menilai perbedaan pandangan dan aspirasi merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, perbedaan tersebut harus disikapi secara dewasa dengan tetap menempatkan persatuan dan kepentingan masyarakat sebagai prioritas.
Keterlibatan LSM Putroe Aceh, organisasi mahasiswa, pimpinan dan santri Dayah Al-Manna, tokoh masyarakat serta warga setempat turut memperkuat pesan kebersamaan dalam kegiatan tersebut.
Selain menjadi momentum memperingati perdamaian Aceh dan menyambut kemerdekaan, kegiatan itu juga menjadi ruang silaturahmi sekaligus mempererat komunikasi antarelemen masyarakat.
Santunan kepada anak yatim menjadi bentuk kepedulian sosial, sementara pembagian Bendera Merah Putih menjadi simbol ajakan untuk bersama-sama menyambut kemerdekaan dengan semangat persatuan.
Muda Seudang dan Putroe Aceh berharap masyarakat Bireuen dapat terus menjaga kerukunan, menolak provokasi serta mengisi perdamaian dengan karya dan kegiatan yang bermanfaat.
Bagi generasi muda, perdamaian bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga tanggung jawab untuk dijaga dan diteruskan.
“Merawat Perdamaian, Menumbuhkan Kepedulian, Menguatkan Persatuan.”Tutup Sayed. [Nazar]
Editor : Wahyu