SIGLI – Pemerintah Kabupaten Pidie kembali menggelar Peuingat Uroe Lahè ke-515 Pidie pada 16 hingga 20 September 2026. Tahun ini, peringatan hari lahir Pidie tersebut dipusatkan di Pidie Convention Center (PCC) Sigli dan sejumlah lokasi di kawasan Kota Sigli.
Puncak peringatan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 19 September 2026, sementara secara historis 18 September ditetapkan sebagai Uroe Lahè Pidie.
Peringatan tahun ini merupakan pelaksanaan keempat sejak agenda Uroe Lahè Pidie ditetapkan pada 2023. Beragam kegiatan telah disiapkan, mulai dari pentas seni dan budaya, expo UMKM, permainan rakyat geudeu-geudeu, kegiatan keagamaan, pawai budaya, hingga olahraga massal.
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) Pidie, Teuku Iqbal, S.STP., M.Si., mengatakan rangkaian kegiatan dirancang tidak hanya untuk memeriahkan peringatan, tetapi juga menjadi ruang memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Pidie.
“Peuingat Uroe Lahè ke-515 Pidie ini kita buat meriah tapi tetap bermakna. Ada seni, pawai budaya, Festival Anak Shaleh, olahraga tradisional geudeu-geudeu, sampai expo UMKM yang menampilkan kuliner, kerajinan, dan produk unggulan 23 kecamatan,” kata Teuku Iqbal, Senin (14/9/2026).
Dibuka dengan Seni, Budaya dan Expo UMKM
Rangkaian kegiatan dimulai Rabu, 16 September 2026, dengan Pentas Seni dan Budaya Pidie di PCC mulai pukul 10.00 hingga 18.00 WIB.
Kegiatan tersebut melibatkan guru SD dan SMP dengan materi lomba paduan suara Hymne Aceh.
Pada hari yang sama, Pameran Pembangunan dan Expo UMKM juga mulai dibuka dan berlangsung hingga 19 September. Expo yang digelar di PCC tersebut diikuti SKPK, 23 kecamatan, pelaku UMKM, komunitas budaya dan sejarah, Bank Aceh Syariah, BSI, BNN serta stan kampanye antikorupsi.
Pengunjung dapat melihat berbagai produk UMKM, benda sejarah, teknologi tepat guna, informasi budaya lokal hingga layanan administrasi kependudukan, perizinan UMKM, pustaka keliling dan pojok baca.
Malam harinya, pentas seni dan budaya menghadirkan Sanggar Suloh Nanggroe, Rapai Grimpheng Trueng Campli, Sanggar Bijehtari dan Grup Band Orfeus Kota Sigli.
Geudeu-Geudeu hingga Festival Anak Saleh
Memasuki Kamis, 17 September, agenda semakin beragam. Selain Sidang Paripurna DPRK Pidie di Gedung DPRK, masyarakat dapat menyaksikan Pentas Seni dan Budaya Pidie di PCC.
Dalam sidang paripurna tersebut, Bupati Pidie dijadwalkan menyampaikan pidato dalam rangka Peringatan Uroe Lahè ke-515 dengan mengenakan pakaian adat Aceh.
Sementara di PCC, pentas budaya akan menampilkan Hikayat Prang Sabi, Lagoe Jameun, Meucagok, Buhak, puisi Aceh, Calitra Paneuk serta pidato bahasa Aceh.
Sore harinya, permainan rakyat geudeu-geudeu digelar pukul 16.30 hingga 18.00 WIB. Pertunjukan permainan tradisional tersebut juga kembali dijadwalkan pada Sabtu, 19 September.
Malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan Festival Anak Saleh Indonesia (FASI), antara lain lomba nasyid, cerita Islami dan talent gambus Islami.
18 September, Ziarah ke Makam Raja Pedir
Pada Jumat, 18 September, rangkaian Uroe Lahè Pidie diisi dengan kegiatan bernuansa religius dan budaya.
Salah satunya ziarah ke makam Raja Pedir Sultan Ma’rufsyah mulai pukul 08.30 WIB. Kegiatan berupa zikir dan doa tersebut dipimpin Tgk. Amri dan Abiya Iswar serta diikuti Forkopimda dan SKPK Pidie.
Di PCC, juga digelar lomba santri TKA/TPA berupa lomba azan dan peragaan salat.
Pentas seni dan budaya turut menampilkan kelompok seni Gampong Pulo Lueng Teuga dan Teupin Raya dalam kegiatan Meugrop untuk pengambilan video dokumenter Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
Pada malam hari, masyarakat akan disuguhkan Meugrop, hikayat, Rapai Grimpheng, Ratoh Jaroe, Laweut serta penampilan talenta artis.
Sementara di Pendopo Bupati Pidie, pukul 20.00 WIB, digelar agenda yang membahas sejarah Pidie, logo Uroe Lahè Pidie dan Pidie Membangun.
Pawai Budaya Warnai Puncak Perayaan
Sabtu, 19 September, menjadi salah satu hari paling semarak dalam rangkaian Peuingat Uroe Lahè ke-515.
Pagi hari, Pawai Budaya digelar mulai pukul 07.30 WIB dengan rute dari Masjid Al-Falah Sigli menuju Pendopo Pidie.
Peserta pawai berasal dari SMP/sederajat, SMA/sederajat, SKPK serta 23 kecamatan di Kabupaten Pidie.
Siang harinya, masyarakat diajak mengikuti Khanduri Raya dan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di PCC. Kegiatan tersebut dijadwalkan dihadiri Forkopimda dan masyarakat.
Pada malam hari, rangkaian dilanjutkan dengan Peumulia Jamee atau Gala Dinner di Pendopo Bupati Pidie yang dihadiri Forkopimda Aceh, Wali Nanggroe, Forkopimda Pidie serta para bupati dan wali kota se-Aceh.
Setelah itu, Malam Puncak Peuingat Uroe Lahè ke-515 Pidie digelar di PCC mulai pukul 20.00 WIB.
Sejumlah penampilan budaya dan hiburan telah disiapkan, di antaranya Sanggar Pusaka Nanggroe, Tarian Seulanga, J.R Choral Club, Apache 13, Rapai Daboh dan Seudati.
Ditutup dengan Olahraga Massal
Rangkaian peringatan Uroe Lahè ke-515 Pidie ditutup pada Minggu, 20 September 2026.
Sejumlah agenda olahraga massal dijadwalkan berlangsung di PCC, mulai dari sepeda santai dan senam massal.
Sepeda santai dijadwalkan mulai pukul 07.00 WIB dengan titik start dan finish di PCC. Pesertanya melibatkan Forkopimda, SKPK, camat, BUMN/BUMD dan masyarakat. Panitia juga menyediakan undian kupon berhadiah.
Selain itu, agenda penutupan akan diramaikan Jambore Sepeda, Drag Race dengan undian hadiah serta Kejuaraan Karate FORKI Piala Bupati-Wakil Bupati Pidie.
Teuku Iqbal berharap seluruh rangkaian kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Menurutnya, Uroe Lahè Pidie tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali sejarah, budaya dan potensi ekonomi daerah.
“Harapannya, Peuingat Uroe Lahè ini bukan sekadar seremoni. Tapi juga jadi ruang promosi produk lokal, menguatkan identitas budaya, dan mempererat silaturahmi masyarakat Pidie,” ujarnya.
Dengan memasuki usia 515 tahun, Pemerintah Kabupaten Pidie berharap semangat sejarah Pedir dapat terus dijaga sekaligus diwariskan kepada generasi muda.
Perayaan Uroe Lahè tahun ini pun diharapkan menjadi momentum untuk mempertemukan sejarah, budaya, ekonomi kreatif dan kebersamaan masyarakat dalam satu rangkaian perayaan yang tidak hanya meriah, tetapi juga memiliki makna bagi masa depan Pidie. []
Penulis : Wahyu
Editor : Redaksi