LHOKSEUMAWE – Sejarah baru pendidikan profesi keteknikan di Universitas Malikussaleh (Unimal) resmi ditorehkan.
Sebanyak 30 lulusan angkatan pertama Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Unimal dikukuhkan dan diambil sumpah profesinya dalam sebuah prosesi yang berlangsung khidmat di Auditorium Fakultas Teknik Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe, Senin (28/9/2026).
Di antara para lulusan tersebut, nama Ir. Zalfie Ardian, S.Kom., M.Eng. turut menjadi perhatian. Dosen Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknik Unimal itu kini resmi menyandang gelar profesi Insinyur (Ir.), setelah menyelesaikan rangkaian pendidikan profesi yang mengintegrasikan kompetensi akademik dengan pengalaman keinsinyuran di lapangan.
Bagi Zalfie, momentum tersebut bukan sekadar seremoni penambahan gelar akademik. Pengukuhan itu menjadi penanda bertambahnya tanggung jawab profesional dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan masyarakat.
Latar belakangnya di bidang teknologi informasi juga memberikan warna tersendiri dalam perjalanan profesinya. Perkembangan teknologi yang semakin cepat menuntut perguruan tinggi tidak hanya melahirkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga tenaga profesional yang mampu menerapkan pengetahuan untuk menjawab persoalan nyata.
Karena itu, pendidikan profesi insinyur menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan ilmu, pengalaman, etika, dan kebutuhan dunia kerja.
Pengukuhan 30 insinyur tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan PSPPI Unimal. Dari sekitar 40 mahasiswa yang mengikuti pendidikan, sebanyak 30 orang dinyatakan berhasil menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan dan mengikuti prosesi pengambilan sumpah profesi.
Menariknya, enam di antara 30 lulusan tersebut merupakan perempuan. Kehadiran para lulusan perempuan itu sekaligus menunjukkan semakin terbukanya ruang bagi perempuan untuk mengambil peran dalam profesi keteknikan.
Prosesi pengukuhan diawali dengan pembacaan Surat Keputusan Rektor mengenai kelulusan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Unimal, Dr. Ir. Azhari, ASEAN Eng.
Suasana kemudian semakin sakral ketika para lulusan mengucapkan sumpah profesi sebagai Insinyur.
Sumpah tersebut bukan sekadar rangkaian kata dalam sebuah upacara. Di baliknya terdapat tanggung jawab untuk menjalankan profesi dengan mengedepankan kompetensi, integritas, keselamatan, serta kepentingan masyarakat.
Koordinator PSPPI Unimal, Ir. Asri, M.T., I.P.M., mengatakan keberhasilan para lulusan tidak terlepas dari pola pendidikan yang menempatkan pengalaman praktik sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga dihadapkan pada persoalan teknis dan tuntutan profesional yang terjadi di dunia kerja.
“Mahasiswa tidak sekadar belajar teori di kelas, melainkan dihadapkan langsung pada penyelesaian problem teknis dan tuntutan profesional di lapangan,” ujar Ir. Asri.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena seorang insinyur dituntut tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengambil keputusan dan menyelesaikan persoalan berdasarkan kompetensi serta standar profesi.
Pendidikan profesi pada akhirnya menjadi jembatan antara bangku akademik dan realitas industri.
Perjalanan PSPPI Unimal juga tidak berhenti pada pengukuhan angkatan pertama.
Mahasiswa pada angkatan berikutnya saat ini tengah menjalani praktik keinsinyuran di sejumlah perusahaan dan korporasi nasional. Praktik tersebut mencakup berbagai sektor strategis, termasuk energi dan industri perkebunan.
Keterlibatan mahasiswa secara langsung dalam lingkungan industri diharapkan dapat memperkaya pengalaman mereka sebelum nantinya menjalankan tanggung jawab sebagai profesional.
Di sinilah pendidikan profesi memiliki tantangan tersendiri: memastikan lulusan tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memahami etika, keselamatan kerja, tanggung jawab sosial, dan konsekuensi dari setiap keputusan profesional.
Prosesi pengukuhan tersebut juga dihadiri secara daring oleh Pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Pusat, Dr. Ir. Teguh Haryono, ASEAN Eng.
Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan bahwa gelar Insinyur bukan sekadar identitas profesional. Di balik gelar tersebut terdapat tanggung jawab moral yang melekat kepada masyarakat.
Seorang insinyur dituntut menjaga profesionalisme sekaligus memahami bahwa setiap pekerjaan keteknikan dapat memiliki dampak luas terhadap kehidupan manusia dan lingkungan.
Karena itu, sumpah profesi menjadi titik awal, bukan garis akhir.
Bagi Ir. Zalfie Ardian, bersama 29 rekan seangkatannya, hari pengukuhan tersebut menandai babak baru perjalanan profesional. Dari ruang akademik, mereka kini membawa mandat untuk mengubah pengetahuan menjadi solusi nyata.
Dan bagi Unimal, lahirnya 30 insinyur dari angkatan perdana PSPPI menjadi penanda bahwa pendidikan tinggi di Aceh terus membuka jalur baru untuk mempertemukan kompetensi akademik, kebutuhan industri, teknologi, dan tanggung jawab profesi. []
Editor : Wahyu