Iklan Parlemen

terkini

Mengenal IPWL: Bukan Sekadar Tempat Rehabilitasi, tetapi Jalan Menuju Kehidupan yang Lebih Baik

Kamis, 22 Oktober 2026, 13.31 WIB Last Updated 2026-10-22T06:32:05Z
Yayasan IPWL Pintu Hijrah
Jalan Tandi, Lorong Nusa Indah I, No 10 c, Dusun Tgk. Imum Gampong Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh.


Oleh: Redaksi/Opini

Banda Aceh, Kamis, 22 Oktober 2026 - Di tengah persoalan penyalahgunaan narkoba yang terus menjadi tantangan bagi masyarakat, mengenal keberadaan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) menjadi hal yang sangat penting. Sayangnya, masih ada masyarakat yang belum memahami fungsi IPWL, bahkan sebagian keluarga merasa malu atau takut mencari bantuan ketika salah satu anggota keluarganya terjerat penyalahgunaan narkoba.

Padahal, pemulihan bukanlah sesuatu yang harus dihadapi sendirian. Ada lembaga, tenaga pendamping, keluarga, dan lingkungan sosial yang dapat berperan membantu seseorang keluar dari ketergantungan dan menata kembali kehidupannya.

IPWL merupakan institusi yang ditunjuk pemerintah untuk menerima laporan dari pecandu narkotika atau keluarganya sesuai ketentuan yang berlaku. Keberadaannya berkaitan dengan akses terhadap asesmen serta layanan rehabilitasi medis dan sosial sesuai kebutuhan individu.

Dengan demikian, IPWL tidak semestinya dipandang sekadar sebagai tempat bagi orang yang mengalami masalah narkoba. Lebih dari itu, IPWL dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperoleh pertolongan, pendampingan, dan kesempatan menjalani proses pemulihan secara terarah.

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan penyalahgunaan narkoba adalah stigma sosial. Tidak sedikit orang yang langsung memberikan cap negatif kepada pecandu tanpa memahami persoalan yang sedang mereka hadapi.

Pandangan seperti ini justru berpotensi membuat seseorang semakin tertutup, enggan mencari pertolongan, bahkan menjauh dari keluarga dan lingkungan sosialnya.

Masyarakat perlu memahami bahwa membantu seseorang pulih bukan berarti membenarkan penyalahgunaan narkoba. Sebaliknya, memberikan akses terhadap penanganan yang tepat merupakan bentuk kepedulian untuk menyelamatkan masa depan seseorang sekaligus melindungi lingkungan sekitarnya.

Tentu saja, pemulihan membutuhkan tanggung jawab, komitmen, pendampingan, dan penanganan sesuai kebutuhan. Tidak ada jalan pintas yang dapat menjamin seseorang pulih dalam waktu singkat. Karena itu, dukungan yang konsisten menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.

Keberhasilan pemulihan tidak hanya bergantung pada lembaga rehabilitasi. Keluarga memiliki peran penting dalam memberikan dukungan emosional, membangun komunikasi yang sehat, dan membantu seseorang menjalani proses pemulihan.

Keluarga juga perlu memperoleh informasi yang benar mengenai ketergantungan narkoba, sehingga dapat membedakan antara memberikan dukungan dan membiarkan perilaku yang merugikan terus berlangsung.

Di sisi lain, masyarakat harus membuka ruang bagi mereka yang sedang berusaha memperbaiki kehidupan. Seseorang yang telah menjalani rehabilitasi tetap membutuhkan kesempatan untuk belajar, bekerja, berinteraksi, dan kembali berkontribusi secara positif.

Tanpa penerimaan sosial, proses kembali ke tengah masyarakat dapat menjadi lebih sulit. Oleh sebab itu, upaya pemulihan seharusnya tidak berhenti ketika seseorang menyelesaikan program rehabilitasi, tetapi dilanjutkan dengan dukungan sosial yang sehat dan berkelanjutan.

Di Banda Aceh, salah satu lembaga yang memperkenalkan pendekatan pembinaan spiritual dalam proses pemulihan adalah IPWL Pintu Hijrah, yang dikenal sebagai Dayah Rehabilitasi Sosial Adiksi yang memiliki pendamping dari Kementerian Sosial RI, teragreditasi A di Kementerian sosial dan juga BNN RI.

Melalui kegiatan Pengajian Tauhid setiap Rabu malam bersama Abi Tgk. Wahyu Mimbar, S.Pd.I., M.Ag., lembaga ini menghadirkan ruang pembinaan rohani bagi para peserta rehabilitasi.

Pendekatan spiritual memiliki arti penting bagi individu yang ingin membangun kembali makna hidup, memperkuat motivasi, dan menata perilaku. Bagi peserta yang meyakini nilai-nilai keagamaan, kegiatan seperti pengajian dapat menjadi sumber ketenangan batin, refleksi diri, dan dorongan untuk menjalani perubahan.

Namun, pembinaan spiritual perlu ditempatkan sebagai bagian dari pendekatan pemulihan yang menyeluruh. Kebutuhan medis, psikologis, sosial, serta pendampingan profesional tetap harus diperhatikan sesuai kondisi setiap individu.

Dengan perpaduan pendekatan yang tepat, rehabilitasi diharapkan tidak hanya membantu seseorang menjauhi narkoba, tetapi juga membangun keterampilan hidup dan kesiapan untuk kembali berinteraksi dengan masyarakat.

Mengenal IPWL berarti memahami bahwa pertolongan tersedia dan dapat dicari sebelum persoalan berkembang semakin jauh. Keluarga yang menghadapi masalah penyalahgunaan narkoba sebaiknya tidak menunda mencari informasi karena rasa malu atau ketakutan terhadap penilaian orang lain.

Langkah awal dapat dilakukan dengan berkonsultasi kepada fasilitas kesehatan atau IPWL yang berwenang untuk mengetahui pilihan layanan, prosedur pelaporan, serta bentuk rehabilitasi yang sesuai.

Masyarakat juga perlu memastikan legalitas, status penunjukan, kompetensi tenaga pendamping, dan jenis layanan suatu lembaga sebelum mempercayakan proses pemulihan kepadanya.

Dalam konteks tersebut, keberadaan IPWL Pintu Hijrah di Jalan Tandi, Lorong Nusa Indah I, Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, dapat menjadi salah satu pilihan untuk mencari informasi mengenai pembinaan dan layanan rehabilitasi yang tersedia. Calon peserta maupun keluarga tetap perlu mengonfirmasi secara langsung cakupan layanan dan prosedur penerimaannya.

Persoalan narkoba tidak cukup dihadapi hanya melalui penindakan hukum. Upaya pencegahan, edukasi, rehabilitasi, dukungan keluarga, dan penerimaan sosial juga memiliki peran penting dalam mengurangi dampaknya.

IPWL merupakan salah satu bagian dari upaya tersebut. Keberadaannya perlu dikenal lebih luas agar masyarakat memahami jalur pertolongan yang tersedia dan tidak membiarkan seseorang menghadapi ketergantungan tanpa bantuan yang memadai.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pemulihan bukan semata-mata terletak pada selesainya suatu program, melainkan juga pada kemampuan seseorang membangun kehidupan yang lebih sehat, bertanggung jawab, dan bermakna.

Setiap orang berhak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena itu, mengenal IPWL bukan hanya soal mengenal sebuah lembaga, tetapi juga tentang membangun kepedulian dan membuka jalan bagi mereka yang ingin bangkit.

Sebab, ketika masyarakat memilih untuk membantu daripada menghakimi, harapan untuk pulih memiliki ruang yang lebih besar untuk tumbuh.

Lebih lanjut, masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai pembinaan dan layanan rehabilitasi dapat menghubungi IPWL Pintu Hijrah (Dayah Rehabilitasi Sosial Adiksi) yang beralamat di:

Alamat Kantor/Yayasan IPWL Pintu Hijrah
Jalan Tandi, Lorong Nusa Indah I, No 10 c, Dusun Tgk. Imum Gampong Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh.

Jika Ada yang ingin bertanya dapat menghubungi A.N Ibni Katsir No.HP/W.a 085262345466

Keluarga maupun calon peserta rehabilitasi dapat mendatangi alamat tersebut untuk mencari informasi mengenai program pembinaan, prosedur penerimaan, dan jenis layanan yang tersedia. Sebelum datang, masyarakat disarankan mengonfirmasi alamat operasional, jam pelayanan, serta cakupan layanan secara langsung kepada pihak lembaga.

Masyarakat juga perlu memastikan status penunjukan IPWL, legalitas lembaga, dan kompetensi tenaga pendamping agar layanan yang dipilih sesuai dengan kebutuhan pemulihan. [*]


Editor  :  Wahyu Hidayatillah
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Mengenal IPWL: Bukan Sekadar Tempat Rehabilitasi, tetapi Jalan Menuju Kehidupan yang Lebih Baik

Terkini

Iklan Parlemen