Iklan Parlemen

terkini

Pewaris Marwah Diplomasi Aceh di Mata Dunia: Mengenang Dr. drg. H. Zaini Abdullah

Senin, 15 Juni 2026, 00.06 WIB Last Updated 2026-06-14T17:06:33Z

BANDA ACEH – Aceh kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Dr. drg. H. Zaini Abdullah atau yang akrab disapa Abu Doto berpulang meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Aceh. Mantan Gubernur Aceh periode 2012–2017 itu bukan sekadar pemimpin daerah, melainkan tokoh penting yang turut mewarnai perjalanan sejarah modern Aceh, dari masa konflik hingga era perdamaian.

Perjalanan hidup Abu Doto adalah kisah panjang tentang pengabdian, pengorbanan, dan diplomasi. Dari rimba perjuangan di pedalaman Aceh, pengasingan politik di Swedia, hingga meja perundingan internasional di Helsinki, namanya menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan bangsa Aceh menuju perdamaian.

Sekretaris Jenderal Yayasan Cakra Donya Atjeh, Irwan Syahputra (Syech Wan), menilai kemampuan diplomasi yang ditunjukkan Abu Doto bersama para tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) merupakan refleksi dari marwah Aceh yang sejak berabad-abad lalu telah dikenal dalam percaturan dunia internasional.

Sang Dokter di Tengah Perjuangan

Lahir di Kabupaten Pidie, Zaini Abdullah meniti karier sebagai dokter gigi. Namun kecintaannya terhadap Aceh dan keprihatinannya terhadap kondisi yang dialami masyarakat membuatnya memilih jalan perjuangan yang penuh risiko.

Ketika Teungku Muhammad Hasan di Tiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember 1976, Zaini Abdullah memutuskan bergabung dalam barisan perjuangan.

Dengan latar belakang medis yang dimilikinya, ia menjadi dokter lapangan yang bertugas merawat para pejuang di tengah keterbatasan hutan pedalaman Aceh. Dalam kondisi serba sulit, ia memberikan pelayanan kesehatan sekaligus menjadi bagian dari perjuangan yang kemudian mengantarkannya menduduki posisi Menteri Kesehatan dalam struktur pemerintahan GAM.

Pengasingan di Swedia dan Diplomasi Internasional

Meningkatnya konflik bersenjata memaksa sejumlah pimpinan GAM, termasuk Hasan di Tiro dan Zaini Abdullah, meninggalkan Aceh untuk melanjutkan perjuangan melalui jalur diplomasi internasional.

Di Swedia, Abu Doto menjalani kehidupan sebagai dokter sekaligus aktivis politik. Ia memperoleh kewarganegaraan Swedia dan tetap aktif memperjuangkan isu Aceh di forum-forum internasional.

Masa pengasingan itu menyimpan kisah yang mengharukan. Kerinduannya terhadap kampung halaman membuatnya beberapa kali pulang ke Aceh. Namun karena status politik yang melekat padanya, ia harus memasuki tanah kelahirannya sendiri menggunakan paspor asing dan tercatat sebagai wisatawan.

Menurut Syech Wan, langkah diplomasi yang ditempuh Abu Doto bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tradisi panjang hubungan internasional Aceh yang telah berlangsung sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam.

Jejak Diplomasi dari Kesultanan hingga Helsinki

Sejumlah arsip kolonial Belanda menunjukkan bagaimana Aceh sejak lama memiliki posisi penting dalam hubungan internasional.

Dokumen-dokumen militer Belanda mencatat secara rinci kekuatan pertahanan Aceh, mulai dari struktur sosial, tata ruang keagamaan, hingga simbol-simbol kebesaran Kesultanan Aceh. Salah satunya adalah catatan mengenai hubungan diplomatik Aceh dengan Kekhalifahan Turki Utsmani yang tercermin dalam penggunaan simbol-simbol seperti Pedang Zulfikar, bulan sabit, dan bintang pada panji-panji perang Aceh.

Bagi Syech Wan, sejarah tersebut membuktikan bahwa Aceh memiliki tradisi diplomasi global yang kuat. Tradisi itulah yang kemudian dihidupkan kembali oleh Abu Doto melalui perjuangan politik dan diplomasi dari Swedia hingga lahirnya Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Kesepakatan damai itu menjadi tonggak sejarah yang mengakhiri konflik bersenjata selama hampir tiga dekade dan membuka lembaran baru bagi Aceh dalam suasana damai.

Dari Medan Perjuangan ke Panggung Pemerintahan 

Pasca-perdamaian, Abu Doto kembali ke Aceh dan menempuh jalur politik demokratis. Bersama Muzakir Manaf, ia memenangkan Pilkada Aceh dan memimpin provinsi tersebut sebagai Gubernur Aceh periode 2012–2017.

Di masa pemerintahannya, fokus perjuangan beralih pada pemulihan pascakonflik dan pembangunan Aceh pascatsunami.

Salah satu warisan yang paling dikenang masyarakat adalah revitalisasi kawasan Masjid Raya Baiturrahman. Di bawah kepemimpinannya, masjid kebanggaan rakyat Aceh itu dilengkapi dengan 12 payung elektrik raksasa yang terinspirasi dari Masjid Nabawi di Madinah. Hingga kini, payung-payung tersebut menjadi ikon wisata religi Aceh yang dikenal luas hingga mancanegara.

Warisan Marwah Aceh

Yayasan Cakra Donya Atjeh menilai keberhasilan diplomasi Helsinki merupakan bukti bahwa semangat kejayaan Aceh sebagai bangsa maritim dan bangsa diplomatik tidak pernah benar-benar padam.

Nama Cakra Donya sendiri diambil dari lonceng legendaris hadiah Kekaisaran Tiongkok kepada Kesultanan Aceh, simbol hubungan internasional dan kejayaan maritim Aceh pada masa lalu.

“Perjalanan Abu Doto bersama Hasan di Tiro dari hutan perjuangan, pengasingan di Swedia, hingga perundingan damai di Finlandia membuktikan bahwa marwah Aceh tetap hidup. Mereka berhasil membuat dunia internasional memperhatikan Aceh dan menyelesaikan konflik melalui meja perundingan yang terhormat,” ujar Syech Wan.

Kini, sang dokter, diplomat, sekaligus negarawan itu telah menyelesaikan tugas sejarahnya.

Ribuan masyarakat Aceh mengantarkan kepergiannya dengan penuh haru. Shalat jenazah dilaksanakan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh usai salat Ashar, sebelum jenazah diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir di Gampong Trubue, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie.

Kepergian Abu Doto menandai berakhirnya satu babak penting dalam sejarah Aceh modern. Namun jejak pengabdian, keteguhan prinsip, dan kemampuan diplomasinya akan terus hidup dalam ingatan rakyat Aceh.

"Selamat jalan, Abu Doto. Namamu akan tetap tercatat sebagai salah satu penjaga marwah Aceh di mata dunia." Tutup Syech Wan.


Banda Aceh, Senin 15 Juni 2026
Penulis : Syech Wan
Publis   : Redaksi
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Pewaris Marwah Diplomasi Aceh di Mata Dunia: Mengenang Dr. drg. H. Zaini Abdullah

Terkini

Iklan Parlemen