Meureudu - Langit Pidie Jaya masih gelap ketika suara azan Subuh mulai menggema dari berbagai masjid, Rabu (5/8/2026). Di saat sebagian besar masyarakat baru bersiap meninggalkan rumah menuju tempat ibadah, jajaran Polres Pidie Jaya justru telah lebih dulu bergerak. Bukan untuk operasi penindakan, melainkan menjemput kepercayaan masyarakat melalui Safari Subuh.
Dipimpin langsung Kapolres Pidie Jaya AKBP Tendri Wardi, S.Pt., S.I.K., M.H., personel Polres dibagi ke dalam empat tim yang menyebar ke sejumlah masjid di wilayah Kabupaten Pidie Jaya. Di balik kegiatan salat Subuh berjamaah itu, tersimpan pesan yang lebih besar: membangun kedekatan antara polisi dan masyarakat.
Di Masjid At-Taqwa, Desa Reuleut Mangat, Kecamatan Jangka Buya, Kapolres memilih duduk berdampingan dengan para jamaah setelah salat. Suasana berlangsung sederhana, tanpa sekat protokoler. Obrolan ringan mengenai keamanan lingkungan, kehidupan sosial, hingga harapan masyarakat mengalir hangat dalam nuansa kekeluargaan.
Bagi Polres Pidie Jaya, Safari Subuh bukan sekadar agenda rutin. Program ini menjadi strategi cooling system yang mengedepankan pendekatan religius dan humanis. Polisi hadir bukan hanya ketika terjadi persoalan, tetapi juga saat masyarakat menjalankan ibadah, mendengar langsung aspirasi, dan memperkuat ikatan emosional.
"Melalui Safari Subuh ini kami ingin membangun komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat, mendengarkan secara langsung berbagai aspirasi serta memperkuat kebersamaan dalam menjaga situasi kamtibmas agar tetap aman dan kondusif," kata AKBP Tendri Wardi.
Pendekatan semacam ini dinilai memiliki nilai strategis. Di tengah berbagai tantangan sosial, komunikasi yang dibangun sejak dini dapat menjadi benteng pencegahan terhadap potensi gangguan keamanan. Kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak lagi dipandang semata sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai mitra yang siap mendengar dan bersama-sama menjaga lingkungan.
Safari Subuh yang berlangsung serentak di empat kecamatan itu berakhir sekitar pukul 06.40 WIB dengan situasi aman dan tertib. Namun, nilai terpenting dari kegiatan tersebut bukan hanya berakhirnya rangkaian acara, melainkan terbangunnya ruang dialog yang semakin memperkuat sinergi antara Polri, tokoh agama, dan masyarakat.
Di Pidie Jaya, menjaga keamanan ternyata bisa dimulai sejak terbitnya fajar—dengan salat berjamaah, silaturahmi, dan percakapan sederhana yang menumbuhkan rasa saling percaya. []
Editor : Wahyu