ACEH BESAR – Ada kenangan yang tidak lekang meski tahun terus berganti. Ada pula ikatan yang tidak putus meski jarak membentang jauh. Bagi keluarga besar Alumni Dayah Babul Maghfirah Cot Keueung, Aceh Besar, persaudaraan bukan sekadar nama yang tercantum dalam daftar alumni, melainkan tali kekeluargaan yang terus dirawat.
Hal itu tergambar dalam kunjungan takziah dan silaturahmi yang dilakukan keluarga besar Alumni Dayah Babul Maghfirah Cot Keueung, Selasa (22/9/2026).
Perjalanan mereka bukan sekadar mendatangi rumah duka. Lebih dari itu, mereka membawa pesan bahwa ketika kesedihan datang mengetuk pintu sebuah keluarga, saudara-saudara lama akan berusaha hadir untuk menguatkan.
Kunjungan pertama dilakukan ke kediaman keluarga salah seorang dewan guru di Sampoinit, Aceh Utara, yang tengah berduka atas kepergian orang tuanya.
Kehadiran keluarga besar Alumni Dayah Babul Maghfirah bersama perwakilan dewan guru menjadi bentuk kepedulian dan rasa persaudaraan di tengah suasana kehilangan. Mereka datang bukan hanya untuk menyampaikan ucapan belasungkawa, tetapi juga untuk memberikan kekuatan kepada keluarga yang sedang diliputi kesedihan.
Di rumah duka, suasana terasa khidmat. Salam, doa dan ungkapan belasungkawa mengalir, menjadi penguat bagi keluarga yang ditinggalkan. Dalam suasana seperti itu, kehadiran orang-orang yang datang dari jauh seakan menjadi pelukan yang tidak terlihat—sederhana, namun menyimpan makna yang dalam.
Kepergian seorang anggota keluarga memang meninggalkan ruang sunyi yang tidak mudah diisi. Namun, di tengah kesedihan itu, hadirnya keluarga besar alumni mengingatkan bahwa duka tidak harus dipikul seorang diri. Ada sahabat, guru dan saudara seperjalanan yang bersedia datang, duduk bersama, serta mengiringi dengan doa.
Pertemuan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa hubungan yang lahir dari lingkungan pendidikan tidak berhenti ketika masa belajar berakhir. Ia dapat tumbuh menjadi ikatan persaudaraan yang tetap hidup, bahkan ketika waktu dan jarak telah memisahkan.
Dari sana, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Gampong Ulee Ateung, Kecamatan Madat, Aceh Timur. Di tempat itu, mereka menyambangi keluarga salah seorang alumni yang telah lebih dahulu berpulang.
Dalam kunjungan tersebut, hadir mewakili dewan guru, Tgk. Muslim. Sementara dari unsur alumni hadir Nazaruddin bersama sejumlah keluarga besar alumni.
Kehadiran mereka disambut hangat oleh keluarga yang berduka. Suasana haru pun tidak dapat disembunyikan. Air mata seakan menjadi bahasa yang paling jujur untuk menggambarkan pertemuan antara orang-orang yang pernah dipertemukan oleh satu almamater.
Di tengah suasana duka, kenangan lama kembali menemukan jalannya.
Hanafiah, orang tua almarhumah yang merupakan alumni Dayah Babul Maghfirah, mengaku sangat bahagia sekaligus terharu atas kedatangan keluarga besar alumni dan dewan guru.
Ia tidak menyangka, setelah bertahun-tahun anaknya menyelesaikan pendidikan tingkat Aliyah pada 2009 silam, hubungan kekeluargaan dengan almamater ternyata masih terjaga.
Pertemuan itu pun berubah menjadi ruang untuk membuka kembali lembaran-lembaran kenangan.
Hanafiah bercerita tentang almarhumah anaknya di hadapan para alumni dan dewan guru. Kisah-kisah masa lalu mengalir di tengah suasana duka, seolah menghidupkan kembali sosok yang telah pergi melalui cerita dan kenangan orang-orang yang pernah dekat dengannya.
Bagi keluarga yang ditinggalkan, kehadiran para alumni dan dewan guru bukan sekadar kunjungan. Ada rasa penghiburan yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata.
Sebab, terkadang yang paling dibutuhkan oleh keluarga yang sedang berduka bukanlah banyak nasihat, melainkan kehadiran orang-orang yang bersedia duduk bersama, mendengarkan cerita, dan menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian.
Nazaruddin mengatakan, keluarga besar Alumni Dayah Babul Maghfirah berupaya menjaga integritas kekeluargaan di antara para alumni.
Menurutnya, hubungan sesama alumni tidak seharusnya berhenti setelah seseorang meninggalkan bangku pendidikan. Justru setelah berpisah dari dayah, tali silaturahmi harus semakin dirawat agar tidak dimakan jarak dan waktu.
“Alumni Dayah Babul Maghfirah sangat menjunjung tinggi integritas kekeluargaan seperti yang kita lakukan saat ini,” ujarnya.
Untuk menjaga komunikasi tersebut, para alumni juga telah membentuk grup WhatsApp sebagai ruang bersama.
Grup itu tidak hanya digunakan untuk berbagi informasi, tetapi juga menjadi tempat bertukar pendapat, berbagi pengalaman, memberikan edukasi, serta menjaga komunikasi antarsesama alumni.
Dengan begitu, teknologi sederhana di genggaman menjadi semacam jembatan yang menghubungkan kembali orang-orang yang dahulu pernah duduk dalam ruang belajar yang sama.
Jarak Aceh Besar, Aceh Utara hingga Aceh Timur pun seakan tidak lagi menjadi sekat.
Sebab bagi mereka, almamater bukan hanya sebuah tempat yang pernah dilewati dalam perjalanan pendidikan. Ia adalah rumah kenangan yang mempertemukan banyak orang dalam satu ikatan persaudaraan.
Kunjungan takziah itu menjadi bukti bahwa waktu boleh membawa seseorang pergi jauh, kehidupan boleh membawa masing-masing alumni menempuh jalan berbeda, tetapi nilai kekeluargaan yang ditanamkan di dayah dapat tetap tumbuh.
Seperti akar pohon yang tidak terlihat namun terus mencengkeram tanah, demikian pula ikatan para alumni. Ia mungkin tidak selalu tampak dalam keseharian, tetapi ketika salah satu keluarga tertimpa musibah, akar itu kembali terasa kuat.
Di rumah duka, di antara doa, air mata dan cerita masa lalu, mereka kembali dipertemukan.
Bukan sebagai sekadar alumni.
Melainkan sebagai keluarga yang tak ingin kehilangan satu sama lain. []
Editor : Wahyu Hidayatillah