PIDIE – Malam itu, Gedung Pidie Convention Center (PCC) Sigli bukan sekadar menjadi tempat perayaan hari jadi daerah. Di tengah gemerlap panggung dan riuh suasana Uroe Lahe Kabupaten Pidie ke-515, sebuah karya budaya seolah mendapatkan rumahnya sendiri.
Sabtu (19/9/2026) malam, sekitar pukul 21.00 WIB, perhatian hadirin tertuju pada satu momen ketika nama Cut Afrianidar dipanggil ke atas panggung.
Ia menerima Anugerah Budaya kategori Insan Peduli Budaya, yang diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Pidie, Alzaizi Umar.
Bagi sebagian orang, penghargaan itu mungkin hanya sebuah seremoni. Namun bagi Cut Afrianidar, apresiasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam menghidupkan kembali identitas budaya Pidie melalui sebuah karya yang sederhana dalam bentuk, tetapi sarat makna: Motif Boh Muling.
Boh Muling atau buah melinjo dipilih dan diolah menjadi sebuah motif yang merepresentasikan kekayaan lokal. Motif itu kemudian dipercaya cukup kuat untuk menjadi identitas visual dan digunakan sebagai logo utama peringatan tahunan Uroe Lahe Pidie.
Di situlah karya budaya menemukan makna yang lebih luas.
Ia tidak lagi sekadar gambar.
Ia menjadi simbol.
Menjadi identitas.
Dan yang lebih penting, menjadi jembatan antara warisan masa lalu dengan kreativitas generasi hari ini.
Ketika Buah Melinjo Menjadi Identitas
Di tengah arus modernisasi, budaya lokal kerap berhadapan dengan tantangan yang sama: bagaimana membuat warisan leluhur tetap dikenal tanpa kehilangan jati dirinya.
Motif Boh Muling hadir dalam ruang tersebut.
Buah melinjo yang selama ini begitu dekat dengan kehidupan masyarakat diolah menjadi gagasan visual yang memiliki nilai estetika sekaligus identitas daerah.
Karya Cut Afrianidar menunjukkan bahwa kekayaan budaya tidak selalu harus ditemukan jauh di luar kehidupan masyarakat.
Kadang-kadang, ia tumbuh di halaman rumah, berada di kebun, hadir di meja makan, atau melekat dalam keseharian masyarakat.
Tinggal bagaimana seseorang melihatnya, mengolahnya, lalu mengangkatnya menjadi sebuah karya.
Penghargaan yang diterima Cut Afrianidar pada malam puncak Uroe Lahe ke-515 menjadi bentuk pengakuan terhadap proses tersebut.
Bukan Sekadar Motif, tetapi Pesan untuk Generasi Muda
Apresiasi terhadap karya tersebut juga datang dari Direktur Utama Yayasan MP Generation, Mellia Septiana, S.Kom.
Ia menyampaikan ucapan selamat kepada Cut Afrianidar yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Pidie.
Menurut Mellia, sosok Cut Afrianidar selama ini tidak hanya berkutat pada urusan pemerintahan, tetapi juga konsisten mendorong dan memotivasi para pelaku UMKM serta pengrajin di Kabupaten Pidie.
Kedekatan itu bukan sekadar hubungan seremonial.
Yayasan MP Generation memiliki ikatan kolaborasi dengan Cut Afrianidar. Dalam sejumlah kegiatan, ia dilibatkan sebagai narasumber di bidang kewirausahaan, termasuk dalam kegiatan pelatihan kementerian maupun program pemberdayaan ekonomi kreatif di daerah.
Dari sana terlihat satu benang merah: budaya dan ekonomi kreatif sebenarnya dapat berjalan beriringan.
Motif tradisional dapat menjadi identitas.
Identitas dapat menjadi produk.
Dan produk budaya dapat membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.
Warisan Indatu yang Menemukan Bentuk Baru
Pidie memiliki sejarah panjang dan kekayaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun sebuah warisan hanya akan tetap hidup apabila ada generasi yang bersedia merawat, mengembangkan, dan memperkenalkannya dalam bentuk yang sesuai dengan zamannya.
Di sinilah karya Motif Boh Muling menjadi menarik.
Ia tidak berhenti sebagai simbol masa lalu.
Karya tersebut justru ditempatkan dalam ruang publik yang lebih luas melalui peringatan Uroe Lahe Pidie ke-515.
Ketika motif itu digunakan sebagai logo peringatan hari jadi daerah, masyarakat tidak hanya melihat sebuah bentuk visual. Di baliknya terdapat pesan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Malam itu, panggung PCC Sigli menjadi saksi bagaimana sebuah karya budaya mendapat penghormatan.
Cut Afrianidar berdiri menerima penghargaan.
Di belakangnya, perayaan Uroe Lahe terus berlangsung.
Dan di antara kemeriahan tersebut, Motif Boh Muling seakan menyampaikan pesan sederhana: bahwa sesuatu yang lahir dari tanah sendiri dapat menjadi kebanggaan ketika dirawat dengan kreativitas dan ketekunan.
Dari Panggung Penghargaan ke Masa Depan
Anugerah Budaya kepada Cut Afrianidar pada akhirnya bukan hanya tentang satu nama atau satu motif.
Lebih jauh, penghargaan tersebut menjadi refleksi bahwa kebudayaan daerah membutuhkan orang-orang yang mau menerjemahkan kekayaan masa lalu ke dalam bentuk yang dapat diterima generasi masa kini.
Motif Boh Muling menjadi salah satu contohnya.
Sebuah karya yang berangkat dari kekayaan lokal, kemudian mendapatkan ruang dalam perhelatan besar daerah dan bersentuhan dengan dunia UMKM serta ekonomi kreatif.
Itulah sebabnya malam puncak Uroe Lahe Pidie ke-515 terasa lebih dari sekadar perayaan ulang tahun daerah.
Ada penghormatan kepada masa lalu.
Ada apresiasi terhadap mereka yang berkarya hari ini.
Dan ada pesan kepada generasi berikutnya bahwa menjaga budaya bukan berarti membiarkannya tetap berada di masa lalu.
Menjaga budaya berarti membuatnya tetap hidup.
Tetap dikenal.
Dan, jika memungkinkan, menjadikannya sumber inspirasi serta kekuatan ekonomi bagi masyarakat.
Di Bumi Pedir, malam itu, sebuah motif bernama Boh Muling telah mengambil bagian dalam cerita tersebut. []
Editor : Wahyu