Iklan Parlemen

terkini

The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Rupiah dan IHSG Berpotensi Tertekan

Kamis, 17 September 2026, 19.05 WIB Last Updated 2026-09-17T12:06:12Z
dok. Lensamerahputih.com


JAKARTA – Kebijakan moneter Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pasar global. Bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75–4 persen pada Rabu (16/9/2026) waktu setempat.

Kenaikan tersebut menjadi kenaikan suku bunga AS pertama sejak 2023. Langkah The Fed dilakukan di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi, sementara aktivitas ekonomi Amerika Serikat dinilai tetap kuat.

Dalam proyeksi terbarunya, The Fed juga mengindikasikan masih adanya ruang untuk satu kali kenaikan suku bunga tambahan sebesar 25 bps hingga akhir 2026. Jika terealisasi, suku bunga AS diproyeksikan mencapai kisaran 4–4,25 persen.

Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan pada Juni 2026 yang menempatkan suku bunga AS di kisaran 3,75–4 persen pada akhir tahun.

Perubahan arah kebijakan The Fed tersebut langsung menjadi perhatian investor karena suku bunga AS menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi arus modal global, nilai tukar, pasar obligasi, hingga pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

Berdasarkan analisis Stockbit, kenaikan indeks dolar AS (DXY) berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Penguatan dolar juga dapat menjadi sentimen yang membebani pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Namun, tekanan terhadap pasar saham dinilai berpotensi relatif terbatas karena ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut sebelumnya telah diperhitungkan oleh pelaku pasar.

Respons pasar terlihat pada perdagangan Rabu (16/9). Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,6 persen ke level 100,3, sekaligus mencapai posisi tertinggi sejak akhir Juli 2026.

Harga emas justru ditutup melemah 0,7 persen ke level US$4.263 per ounce, meski sempat menguat sekitar 1,7 persen dalam perdagangan intraday.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun naik sekitar 2 bps dan relatif bergerak datar di sekitar level 5 persen.

Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat ditutup di zona merah. S&P 500 terkoreksi 0,45 persen, Nasdaq turun tipis 0,01 persen, sedangkan Dow Jones melemah 1,2 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa keputusan The Fed masih menjadi salah satu sentimen utama yang diperhatikan investor global.

Bagi Indonesia, penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati karena dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah.

Jika dolar terus menguat, aset-aset berbasis dolar dapat menjadi semakin menarik bagi investor global. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang.

Meski demikian, reaksi pasar domestik tidak hanya ditentukan oleh kebijakan The Fed. Sentimen dari perekonomian domestik, kebijakan Bank Indonesia, kondisi fiskal, serta perkembangan pasar global juga akan menjadi faktor yang menentukan arah rupiah dan IHSG.

Di kawasan Asia, sentimen pasar pada Kamis (17/9) justru relatif positif. Nikkei tercatat menguat sekitar 0,6 persen secara intraday, sementara Kospi naik sekitar 0,3 persen.

Dengan demikian, investor masih mencermati seberapa besar dampak kenaikan suku bunga AS terhadap pasar keuangan global, khususnya setelah pelaku pasar sebelumnya telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan.



Sumber  :  Bloomberg, Reuters, Federal Reserve, CME FedWatch, Stockbit Commentary.

Editor  :   Wahyu
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Rupiah dan IHSG Berpotensi Tertekan

Terkini

Iklan Parlemen